Minggu, 26 Maret 2017

Villa Putih (Bag.6)

Ku buka amplop putih tersebut dengan tangan gemetar.

Sangat terasa cengkraman gemetar dari tangan si Gendon di pundak kanan ku.

Saat ku tarik lipatan kertas putih dari dalam amplop tersebut, wangi aroma bunga melati makin menyengat di hidung ku.

"Apa isinya...??"

Bisik Si Gendon sambil kepalanya maju, sedangkan tubuhnya tetap bersembunyi di belakang ku dan si Polos.

"Kalau dari wanginya sih paling surat cinta buat bos Gendon..
Kikikikikikikik...."

Canda si Polos saat ku mulai membuka lipatan kertas tersebut.
--------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------

"Haiiii.....
Bagaimana kabar kalian di kamar sana ??

Mudah-mudahan tidak seperti tadi.
Ketakutan...

Tapi sempat juga marah-marah..

Hihihihihi....

Maaf ya....

Tadi salah kirim kertas.

Jadinya kalian pastinya bingung.

Kok dapat surat tapi gak ada isinya.

Kikikikikikikik....

Oya...
Perkenalkan nama saya Yasmine.

Ini sketsa wajah saya sewaktu masih hidup.

(Terlihat sketsa wajah seorang Noni Belanda yang sangat cantik)

Dulu saya adalah anak dari pemilik rumah ini.

Namun meninggal saat rumah ini di serang oleh gerilyawan pada waktu itu.

Sedangkan kedua orang tua ku selamat, dan info terakhir yang ku dapat, mereka telah pergi ke Negeri Belanda setelah Negara ini kalah oleh Jepang.

Sudah lama aku menghuni rumah ini bersama para pembantu yang ikut meninggal saat kejadian waktu itu.

Ini namanya Mbok Ijah dan Mbok Inem.

(Terlihat dua sketsa wajah ibu-ibu pedesaan yang tersenyum dengan ramahnya)

Beliau adalah penanggung jawab kebersihan setiap ruangan di rumah ini.

Dan yang ini Abah Ujang dan Mang Asep.

(Terlihat sketsa wajah kakek-kakek dan sketsa wajah seorang Bapak-Bapak sekitar umur 40-an yang terlihat ramah)

Beliau-beliau ini adalah penanggung jawab atas taman di sekitar rumah ini.

Dan yang ini namanya Ucup.

(Tampak sketsa wajah seorang anak laki-laki yang bila ditaksir sekitar umur 10 tahunan)

Dulunya dia anak dari kampung di bawah sana.

Namun saat kejadian tragis itu dia sedang ada di rumah ini untuk mengantarkan telur ayam pesanan ibu ku.
Dan tanpa disengaja dia pun ikut tertembak peluru yang membabi-buta.

Dan yang ini Mr. Alex.

(Tampak sketsa wajah seorang lelaki muda, dengan rambut panjangnya, seperti seorang seniman)

Dia adalah yang melukis sketsa wajah yang ada di surat ini.

Tuh....
Sudah kami tunjukkan wajah asli kami.
Agar kalian tahu, bahwa kami tidak pernah bermaksud menakut-nakuti kalian.

Kami hanya ingin berkenalan.

Mau yaaaaaaaa.......????

Pleaseeeeeee......!!!!!

Kalian baik deh.......

Oke ?

Oke ?

Oke ?

Kalau kalian menerima niat baik kami,

Kami tunggu kalian sekarang di ruang santai favorit kami......

Salam kenal,

Yasmine.

---------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------

Demikian isi surat tersebut.

Kami bertiga saling menatap.

Bingung......

"Emang ruang santai favorit mereka dimana...??"

Tanya si Polos, bingung...

---------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------

"Di Siniiiiiiiiiiiiiiiiii............!!!!!!!!!!!"

Tiba-tiba terdengar suara wanita di belakang kami.

"SRRRRRRRRRRRRRRRR....."

Bulu kuduk langsung berdiri...

Dan saat ku lihat ke belakang....

"Haaaaaaiiiiiiiiiiiii....."

Ku lihat seorang wanita sedang berdiri di pojok kamar sana,
melambaikan tangan sambil tersenyum manis...

---------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------

Bagian 7

Sabtu, 25 Maret 2017

Villa Putih (Bag.5)

Si Polos terlihat masih tak percaya saat kami ceritakan apa yang sudah kami alami tadi, saat dia tak ada di sana.

"Masa ada hantu ngajak ngobrol kayak gitu...??"

Si Polos mulai mengernyitkan kulit di dahinya.

"Setelah sekarang dipikir-pikir, aku merasa aneh juga..."

Ucap si Gendon di sebelah ku.

"Mungkin saja niat mereka memang ingin mengenalkan diri.
Bukan untuk menakuti kita"

Si Polos mulai mengeluarkan opininya.

"Tetap saja nakutin..!!
Dasar hantu sompret...!!"

Ketus si Gendon.

"Emang tadi waktu di bawah kamu gak ngalamin kejadian aneh ??"

Tanyaku penasaran kepada si Polos.

"Ada sih..."

Jawab si Polos.
Kernyit di dahinya menandakan dia sedang mengingat-ingat sesuatu.

"Apa'an.....!!?"

Tanya si Gendon penasaran.

"Tadi, pas waktu naik ke atas kursi untuk memperbaiki sikring listrik rumah ini,
senter yang ku pegang sempat jatuh,
terus menggelinding di atas keramik teras sampai akhirnya menggelinding di atas rumput taman.
Aku bingung....
Kok senter bisa menggelinding di atas rumput ??
Terus aku kejar.
Tiba-tiba seperti ada suara berbisik...
Seperti suara kakek-kakek...
Samar-samar aku dengar suara
"jangan nakal... jangan ganggu orang...!!"
Terus senternya berhenti menggelinding."

Terus aku ambil senternya.
Pas mau naik lagi ke atas kursi, aku dengar suara teriakan kalian.
Makanya langsung ke sini "

--------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------

"Tok tok tok..."

Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketok dari luar.

Kontan saja kami kaget.
Si Gendon langsung meloncat ke atas ranjang.
Sedangkan aku dan si Polos secara refleks langsung mengarahkan lampu senter kami ke arah pintu.

"SRRRTTTTTT...."

ku lihat selembar kertas putih di bawah celah pintu kamar.

Aku dan si Polos saling memandang.

Si Polos berdiri dan cepat-cepat mengambil kertas tersebut dan menyerahkannya kepada ku.

Saat memegangnya, langsung tercium wangi bunga melati dari kertas tersebut.

Hal ini langsung membuat tanganku gemetar dan jantung ku dag dig dug gak karuan.

Kemudian, dengan tangan gemetar, ku coba memberanikan diri untuk membuka lipatan kertas putih tersebut.

Saat ku buka..........

Ternyata tidak ada isi tulisan apapun di dalamnya.

Tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran ku yang menduga pasti ada tulisannya.

Si Polos yang ada di sebelah ku cuma menatap bingung.

Dan si Gendon yang telah berdiri di belakang sambil memegang bahu kanan ku dan bahu kiri si polos hanya ikutan bengong dan kebingungan.

"Maksudnya apa.....??"

Kata si Gendon di antara kami.

"Mungkin ada tulisannya, tapi harus punya keahlian bathin untuk membacanya..."

Kata si Polos, penuh praduga.

--------------------

"Tok tok tok....

Kembali pintu kamar kami diketok dari luar...

Dan.....

"SRRRRTTTTTT...."

Kembali kami melihat selembar kertas terlipat disisipkan melalui celah bawah pintu kamar kami.

"Buruan ambil...!!"

Bisik si Gendon sambil mendorong si Polos untuk mengambil kertas tersebut.

Dan si Polos pun hanya menurut saja.

Kemudian kembali kertas tersebut diserahkan kepadaku.

Tapi kali ini bukan lipatan kertas seperti tadi,  tapi amplop putih yang terdapat tulisan di luarnya.

Kemudian kami baca tulisan di amplop tersebut.

"Harap di baca ya...
Biar tidak salah paham lagi..."

Demikian isi tulisan yang tertulis di amplop tersebut.

--------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------

Bagian 6

Villa Putih (Bag.4)

"JLEEBB..!!"

Tiba-tiba aliran lampu di rumah ini mati.

Dan suasana menjadi gelap.
Hanya samar cahaya dari jendela yang menerangi kamar ini.

Terlihat bayangan si Gendon yang meloncat, berdiri dan menghampiriku.

"Sueeeee....!!!!
Malah mati lampu segala..!!"

Si Gendon menggerutu.

Ku coba menuju jendela kamar dan menyingkap sedikit kain gordeng yang menutupinya.

Ku coba melihat ke arah perkampungan di bawah sana, yang lokasinya lumayan jauh dari rumah ini.

Ternyata ku lihat lampu di perkampungan itu menyala.

"Apakah mungkin jalur kabel listriknya yang berbeda, atau mungkin ada yang korslet sehingga listrik di rumah ini mati ...???"

Timbul pertanyaan di benak ku.

"Loh... kok rumah yang lain listriknya gak mati..!!??"

Tiba-tiba si Gendon sudah berdiri di samping ku sambil melihat ke arah perkampungan di bawah sana.

"Ya sudah... biar aku periksa ke bawah.  Kali aja emcibi nya turun"

Terdengar suara si Polos berbarengan dengan suara pintu kamar yang dibuka olehnya.

"Kalian tunggu saja di sini.
Jangan ikut kalau penakut.."

Ujar si Polos sambil mencoba menutup pintu kamar.

"Los... bawa senter..!!"

Teriak si Gendon di sebelah ku.

"Iya. 
Ada nih... nguik...nguik...nguik..."

Jawab si Polos sambil memainkan on/off lampu senter di tangannya.
Dan mengarahkan cahaya lampunya ke arah kami.

Kontan saja mata ku dan mata si Gendon dibuat silau oleh kelakuannya tersebut.

"Hahahaha....:

Si Polos malah tertawa sambil menutup pintu kamar melihat kami merasa silau karena ulah jailnya itu.

Dan terdengar langkahnya menuju tangga dan turun ke lantai bawah.

-----------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------

Sudah lebih dari sepuluh menit sejak si Polos pergi untuk memeriksa meteran listrik di halaman depan, di bawah sana.

Dan listrik di rumah ini masih belum menyala juga.

Timbul ke khawatiran dalam benak ku.

------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------

"Tok tok tok..."

Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketok dari luar.

"Los......???"

Tanyaku dari dalam....

Namun tidak ada suaranya yang menyahut.

Si Gendon yang mengarahkan lampu senter di tangannya ke arah pintu kamar terlihat kaget dan tegang.

"Los....???"

Panggil ku sekali lagi, sambil berjalan perlahan ke arah pintu.

"Krrrrrrtttt....."

Terlihat handle pintu bergerak, seolah ada orang yang menggerakkannya dari luar.

Akupun sedikit mundur dan mengarahkan lampu senter di tangan ku ke bagian pintu yang biasanya terbuka.

"Krrrrrrttttt..."

Ku lihat handle pintu itupun bergerak kembali ke posisi awalnya.

"Los....???
Jangan becanda, Los...!!"

Teriak ku, mulai merasa tegang dan bulu kuduk ku mulai makin berdiri, serasa ada yang meniupnya pelan dengan napas yang terasa dingin.

"Siapa di luar....!!???"

Tiba-tiba saja si Gendon berteriak dan mengagetkan ku.

"Biasa aja keleus.... gak usah teriak-teriak segala..."

Terdengar suara lirih perempuan dan membuat si Gendon langsung meloncat ke belakang tubuh ku sambil ketakutan.

"Kami ke sini disuruh pemilik rumah ini untuk memperbaiki rumah ini.
Kami tidak bermaksud mengganggu.
Jadi tolong jangan ganggu kami..!!"

Teriak ku memberanikan diri.

"Uuppsss.... maaf deh kalo gitu.
Kami juga gak maksud ganggu kalian.
Kami hanya ingin kenalan sama kalian..."

Suara lirih wanita itu menimpali teriakkan ku.

"Pergi kalian !!!
Kalau kalian benar-benar tidak berniat jahat, jangan bikin kami ketakutan seperti ini...!!
Demi Tuhaaaannnnn... kami tidak rela...!!!"

Teriak si Gendon di belakang ku.

"Terus... gimana cara kami kenalan sama kalian...??
Punya ide yang lain..??"

Tanya suara lirih dibalik pintu tersebut.

"Pake cara yang lebih beradab dan tidak bikin kami takut seperti ini...!!"

Teriak si Gendon sambil mencengkram bahu tangan kiri ku dengan kencang.

"Oke deeehhhhh....."

Suara lirih wanita di balik pintu kamar kami.

Kemudian kami mendengar seperti suara berbisik beberapa orang di luar kamar kami.

Seperti ada suara beberapa wanita dan laki-laki serta anak-anak sedang membicarakan sesuatu namun tidak terdengar jelas, saking lirihnya.

"Kami pamit dulu ya....
Maafin kami bila sudah membuat kalian ketakutan...
Oya... sebentar lagi teman kalian kemari.
Dia baik-baik saja.
Kalian jangan khawatir.

Hiiiiihihihihihihihihihihihi....."

Terdengar lagi suara lirih wanita tadi disertai tawanya yang bikin merinding.

"Sudah ku bilang jangan nakutin...!!!!"

Teriak si Gendon dengan kencangnya.

"Uupsss... soriiii...."

Kemudian terasa sepi.

Namun perasaan ini merasakan sesuatu yang berbeda.

Perlahan-lahan rasa takut ku mulai menghilang.

--------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------

"KRRRRRTTTTTT... KLIK...!!"

Beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka tiba-tiba.

Dan membuat aku dan si Gendon kaget.

Si Gendon langsung melompat ke atas ranjang.
Sedangkan aku langsung mengarahkan lampu senter yang ku pegang ke arah pintu yang makin terbuka lebar.

"Pantesan listriknya mati.
Sikring nya putus.
Sudah aku akalin tetap gak bisa nyala"

Ku lihat si Polos masuk sambil memicingkan mata karena silau lampu senter yang ku arahkan ke wajahnya.

"Mau aku akalin lagi,
tapi tadi aku dengar suara kalian teriak-teriak.
Makanya langsung ke sini.
Ada apa...??"

Tanya si Polos penasaran.

"Tutup pintunya...!!"

Tiba-tiba si Gendon teriak dari arah ranjang.

Kontan saja teriakkan si Gendon membuat aku dan si Polos kaget.

Dan secara refleks, si Polos langsung menendang pintu di belakangnya dengan cepat sampai pintunya tertutup.

Kemudian meloncat ke arah kami.

Kemudian berbalik dengan cepat ke arah pintu sambil mengarahkan lampu senternya ke arah pintu kamar yang baru saja dia tendang sampai tertutup rapat dengan kencangnya.

---------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------

bagian 5

Jumat, 24 Maret 2017

Villa Putih (Bag.3)

Malam telah datang.

Tak terasa sudah tiga jam lebih kami bertiga diam di kamar.

Tak berani keluar dari kamar.

Karena setelah aku dan si Gendon menceritakan semua kejadian yang kami alami, kami buru-buru menyalakan semua lampu di setiap ruangan rumah ini.

Kemudian kami langsung naik ke lantai dua dan masuk kamar.

Untungnya kamar ini adalah salah satu kamar utama yang dilengkapi kamar mandi di dalamnya.

Jadi kami bisa meminimalisir kejadian-kejadian yang mungkin bisa saja kami alami di luar kamar sana, bila kami kebelet pipis maupun yang lainnya.

---------------------
-------------------------------

Setelah selesai shalat Isya, kami kembali duduk di lantai berkarpet di kamar ini, sambil menikmati hangatnya kopi sachet yang kami seduh dengan air panas dari water heater yang kami bawa.

Masih terlihat wajah gelisah si Gendon, yang sesekali celingak-celinguk melihat ke arah pintu dan jendela.

Sedangkan si Polos malah terlihat santai sambil membentuk bulatan-bulatan dari setiap asap rokok yang dia keluarkan dari mulutnya.

Aku sendiri otak ku berputar memikirkan kejadian tadi sore.

Apakah rumah ini memang berhantu ??

Atau mungkin ada yang sedang usil ??

Hmmmmmm....??

Sepertinya aku mulai kebingungan....
-----------------------------------
--------------------------

Tiba-tiba diluar sana angin mulai bertiup agak kencang.

Tak berapa lama, sepertinya hujan gerimis mulai turun.

"Coba kamu hubungi lagi pak Haji, Lan...
Mudah-mudahan sekarang diangkat telponnya.."

Kata si Gendut, sambil bergeser duduknya mendekat.

Karena sejak kejadian sore tadi, aku langsung telpon pak Haji, pemilik rumah ini untuk memberitahukan kejadian yang kami alami.

Dan berharap Beliau berkata

"Sudah, batalkan saja pekerjaannya, terus kalian pulang saja demi keselamatan kalian".

Tapi setiap dihubungi selalu ada wanita yang mewakili pak Haji menjawab telpon kami

"Maaf, nomor yang hubungi sedang berada di luar area.
Cobalah hubungi beberapa saat lagi.."

---------------------------

"Sudah aku coba, Don..
Lihat... sampai batere hp ku tinggal 10% lagi..."

Kataku, menjawab permintaan si Gendon.

Kemudian aku berdiri menghampiri tas gendong kesayangan ku.

Kemudian ku buka dan ku keluarkan charger hp untuk men-cas hp nokia 1100 kesayangan ku yang baterenya tinggal 10% lagi.

-----------------------------------

Sepuluh menit kemudian,

"Teteteret tet tet teret....."

Terdengar suara ringtone espionage dari hp nokia 1100 yang tengah ku cas di atas meja dekat jendela kamar.

Kontan saja suaranya yang kencang dan tiba-tiba membuat kami sedikit kaget.

Segera aku berdiri untuk mengangkat telpon tersebut.
Berharap itu adalah telpon dari Pak Haji.

Saat ku angkat dan mau ku pencet tombol penerima telpon, tiba-tiba suaranya terhenti.
(Panggilan di akhiri).

Ku coba cek siapa yang baru saja menelpon, tapi ternyata tidak ada nomor kontak yang tercantum.

Ku coba cek lagi di folder Register untuk men-cek panggilan tak terjawab, ternyata cuma ada "panggilan tak terjawab" beberapa hari yang lalu, dari beberapa nomor yang tidak terdaftar di kontak.

"Dari siapa, Lan...??"

Tanya si Gendon.

"Gak tahu....   nomornya gak tercantum di daftar.."

Jawab ku, bingung.

"Mungkin mereka mau nanyain 'sedang ngapain kita di kamar ?'...."

Celoteh si Polos.

"Siapa...!!??"

Tanya si Gendon, penasaran.

"Ya... penghuni rumah ini kali..."

Jawab si Polos, santai.

SEEEEEEERRRRRRRRRRR.....

Tiba-tiba bulu kuduk ku merinding saat si Polos berkata seperti itu.

"Boa edaaaannnnn....!!!"

Si Gendon melotot menatap si Polos yang terlihat acuh tak acuh dalam keadaan seperti ini.

Ku coba mengingat-ingat kode untuk mengetahui panggilan terakhir yang masuk via layanan operator.

Tapi mendadak saat itu pikiran ku buntu dan lupa kode tersebut.

Saat aku berbalik untuk bertanya ke si Gendon tentang kode itu, tiba-tiba....

"Tetet telet tetet  telet...."

Hp ku berbunyi lagi.
Dan saat hendak ku angkat, mati lagi.

Dan saat ku cek di daftar panggilan, masih sama seperti tadi.

----------------------------
-------------------------------------

"Kriiinnngggg... kriiiinnnngggg..."

Tiba-tiba terdengar seperti suara telpon rumah berdering di lantai bawah.

Si Gendon langsung berdiri dan menghampiri ku.

"Emang di rumah ini ada telponnya ??"

Tanya si Gendon kebingungan.

"Los,   kamu lihat ada telpon rumah di ruang bawah ??"

Tanyaku ke si Polos.

"Setahu ku gak ada.  
Lihat saja diluar.
Kabel jaringan telpon aja gak ada.."

Jawab si Polos sambil berdiri menuju pintu kamar.

"Eiiittttttzzzzz...!!
Mau kemana...!!??"

Si Gendon setengah melompat menahan langkah si Polos yang mendekati pintu kamar.

"Mau lihat ke bawah....
Kali aja ternyata telpon beneran..."

Jawab si Polos.

"Kalau ternyata gak ada...??"

Si Gendon berusaha menakuti agar si Polos tidak keluar dari kamar.

Dan sepertinya berhasil.

Akhirnya si Polos kembali ke tempat duduknya semula,  kembali  dengan mimik wajah acuh tak acuhnya.

------------------
------------------------

Selama kenal si Polos, memang banyak kejanggalan pada orang yang satu ini.

Orangnya "leumpeung.../ lurus...."   seperti tak menyimpan banyak beban dipikirannya.

Menurut info dari kedua orang tuanya saat berkunjung ke kampung halaman si Polos,

Saat kecil dia pernah sakit panas (demam) tinggi.
Dan dirawat selama seminggu oleh orang pintar di kampungnya, yang jauh dari kota atau desa yang terdapat puskesmasnya.

Wajar saja, saat berkunjung ke kampung halamannya, dijamin malas tuk balik lagi.

Bukan karena suasana kampung halamannya yang memang indah dan masih murni alami,
Tapi memikirkan perjalanan pulangnya yang sangat jauh,  tanpa akses kendaraan, bahkan untuk motor ojek sekalipun,
harus melewati hutan, sungai dan bukit yang sangat menguras mental dan tenaga.

Wajar saja bila tak ada satupun petugas layanan kesehatan pemerintah yang bermental manja yang sudi berkunjung ke sana.

Kecuali akhir-akhir ini.

Setelah adanya kegiatan kemanusiaan dan sosial "yang bermental baja"  dari para generasi muda saat ini, yang rela mengabdikan sebagian waktu dalam kehidupannya untuk membantu sesama yang berada jauh di pelosok-pelosok sana.

Menurut orang tuanya,
Mungkin karena kejadian tersebut, akhirnya tumbuh kembang pemikiran si Polos jadi berbeda dibanding saudaranya yang lain.

Namun yang sangat ku sukai dari si Polos adalah kejujuran dan semangat dia saat bekerja.

Beda dengan si Gendon yang kadang ngutil sedikit dari setiap bon belanjaan.
Namun karena skill dan pengalaman yang dia punyai menjadikan nilai minusnya tersebut menjadi tertutupi di mata Pak Haji, bos kami saat ini.

Sedangkan aku, sebenarnya orang luar yang kebetulan kenal dengan pak Haji dan dipercaya karena selalu memberikan ide-ide sederhana yang masuk akal dan mampu mempersingkat jadwal pekerjaan namun tetap mengutamakan hasil yang optimal.

--------------------------------------------
----------------------------------------------------

bagian 4

Villa Putih (Bag.2)

Tak terasa matahari makin menuju ufuk barat dan sedang bersiap-siap ganti shif kerja dengan sang rembulan.

Setelah tak sengaja tertidur selama tiga jam lebih, tiba-tiba dibangunkan oleh suara pintu kamat yang terbuka cukup keras.
Seperti ditabrak oleh seekor gajah.

Dan gajah itu langsung menggoyang-goyangkan tubuh ku, agar segera bangun dari tidur yang terasa nikmat ini.

"Bangun, Lan..!!!!   Banguunnn...!!!"

Si Gendon menarik kerah baju kemeja yang kupakai sampai aku terduduk, kaget...

Dengan mimik mukanya yang serius dan ketakutan.

"Ada hantu di dapur rumah ini, Lan..!!!"

"Hantu...????"

Tanyaku bingung.

"Iyaaaaa.....
Tadi pas aku seduh kopi di dapur, tiba-tiba ada suara cewek memanggil nama ku dari luar.
Pas aku lihat ke jendela, ternyata ada cewek cakep sedang menatap ke arah ku sambil tersenyum.
Tapi tatapannya itu membuat bulu kuduk ku merinding..!!"

"Terus kamu tanya namanya ?"

"Boro-borooooo... semprul !!!"

Si Gendon melotot dengan raut muka kesal.

---------------------------------
-------------------------------------------

Sambil sedikit linglung karena dibangunkan paksa saat sedang tidur pulas oleh si Gendon, aku terpaksa keluar dari kamar tidur, turun ke lantai bawah menuju dapur untuk olah TKP.

Si Gendon mengikuti ku dari belakang dengan langkah yang penuh keraguan serta mimik wajah tegang.

Tiba-tiba......
Dari arah belakang....

"Kiikikikikikikikikikikik....."

Belum sempat menoleh ke belakang, Si Gendon langsung menubruk ku sehingga kami terjatuh di lantai.

Bukan hanya kaget dan membuat jantung berdetak sangat keras, tapi badan ini terasa mau remuk ditindih tubuh si Gendon yang sangat besar dan buncit mirip kodok raksasa.

"Aduh, Lan.... 
Itu pasti hantunya, Lan......"

Rintih ketakutan si Gendon yang tanpa sadar mencengkram rambut bagian belakang ku dengan kencang.
Sehingga makin bertambahlah derita yang kurasakan saat itu.

"Lepasin aku, Don....
Biar aku lihat dulu itu hantu atau bukan.."

Bisikku diantara kaget, sakit dan kesal.

----------------------------------------
----------------------------------------------

Akhirnya......
Setelah si Gendon bergeser dari tubuh ku dan melepas cengkraman tangannya di rambut ku, perlahan aku mencoba bangkit dan membalikkan tubuh ku.

Sambil memicingkan mata, ku coba melihat ke arah belakang tadi, tempat datangnya suara kikikikik tersebut.

Namun aku tak melihat siapapun atau sosok hantu yang terlintas dalam benakku yang tengah berandai-andai membayangkan wujudnya.

-----------------------------------------
----------------------------------------------

Dengan napas masih ngos-ngosan dan badan yang terasa sakit, aku mencoba duduk di kursi, di dapur, ditempat kejadian yang diceritakan oleh si Gendon.

Ku lihat di atas meja, di hadapan ku, ada segelas kopi yang terlihat masih mengepulkan uap panasnya.

"Sekarang kamu percaya kan, Lan ??"

Ujar si Gendon dengan mimik wajahnya yang penuh ketakutan.

"Tapi ini masih sore, Don...
Lihat...  matahari sore masih ada.
Gak mungkin
ada hantu berkeliaran jam segini.
Ini belum jadwalnya..."

Sergah ku..

"Terus yang tadi itu apaan..!!??"

Si Gendon mulai melotot.

Sedangkan otak ku mulai berputar mencari jawaban dari semua kejadia tadi.

Tiba-tiba,

"Assalamu'alaikum..."

Terdengar suara si Polos yang baru masuk setelah dari tadi siang, sebelum aku ketiduran, dia ijin untuk pergi ke rumah RT di kampung ini untuk memberitahukan keberadaan kami disini.
Sekaligus laporan,
Kami kan warga negara yang baik.

---------------------------------
-------------------------------------------
--------------------------------------------------

bagian 3

Jumat, 17 Maret 2017

Villa Putih (bag.1)

waktu kecil aku memang penakut.

tapi seiring waktu, seiring bertambahnya usia, rasa takut akan hal-hal ghaib itu mulai berkurang.

tapi kadang, bila harus mengalaminya sendirian, aku tetap takut.

hahahahahahahahahahahaha.......

________________________________________________
__________________________________________________

Hari itu,
aku, gendon dan polos harus berangkat ke Bandung.

Sesuai permintaan Pak Haji,
untuk melihat kondisi villa milik Beliau yang sudah lama tidak terpakai.

Lima tahun sebelumnya, villa tersebut pernah disewakan kepada seorang pengusaha china sebagai tempat tinggal isteri simpanan pengusaha tersebut.

namun hanya bertahan selama satu bulan,
isteri simpanan pengusaha berdarah tiongkok tersebut memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut.

katanya, dia dan beberapa pembantunya sering mengalami hal-hal yang membuat mereka tidak betah.
Bahkan ketakutan setengah mati.

Dari mulai sering terdengarnya suara yang aneh-aneh, sampai seringkali kehilangan isi dari kulkas mereka .
Terutama daging yang mereka simpan di dalam kulkas.

Hmmmmmmmm....??????

Apakah mungkin digondol tikus ??

Tapi sejak kapan tikus bisa membuka pintu kulkas ??

karena yang ku tahu, satu-satunya tikus yang bisa membuka pintu kulkas dan mengambil isinya hanyalah tikus gendut yang kini ada bersama ku.

Dialah Tikus Gendon.

Hihihihihihihhihihihihi.....

______________________________________________________________
___________________________________________________________________


Setelah sibuk tanya kiri tanya kanan, akhirnya sekitar jam dua siang kami tiba di villa tersebut.

Si Polos pun turun dari mobil kijang milik Pak Haji yang kami bawa, untuk membuka pintu gerbang yang dikunci dengan dua buah gembok besar yang terlihat mulai berkarat.

Untunglah masih bisa dibuka dengan kunci yang diberikan oleh pak Haji.

"Firasat ku gak enak, Lan.."

Terlihat wajah penuh keraguan si Gendon yang menjadi supir pribadi aku dan si Polos di hari ini.

Karena jujur saja, aku dan si Polos tidak bisa mengendarai mobil selihai si Gendon.

Dan Pak Haji pun tak pernah lagi mempercayakan aku dan si polos untuk mengendarai mobil miliknya.

Karena ujung-ujungnya pasti harus mengeluarkan biaya servis mobil di bengkel langganan Pak Haji.

huft..!!!!

"Buruan Woooooyyyy....!!!!!"

Teriak Si Polos sambil menyender, memeluk mesra ujung pintu gerbang yang baru saja dia buka.


"Coba perhatikan, Cuuyyyyy.....
Rumah besar mirip rumah Wong Londo zaman dulu, dengan cat putih sudah ngelotok di sana-sini,
dua lantai, jauh dari perkampungan penduduk,
sudah bertahun-tahun gak diisi.....
pastinyaaaaaaaaaaaaa..........hiiiiiiiiiiiiiiiii......."

Si Gendon bergidik tak berani meneruskan ucapannya.

"Tapi, coba perhatikan.
Rumput tamannya rapi.
Kaca-kaca rumah tersebut kayaknya masih sering dibersihkan.
coba perhatikan..."

Kata ku, sambil menunjuk ke arah taman dan deretan kaca rumah tersebut.

"Ya iyalah.....  kan ada yang orang yang bertugas mengerjakannya.
Tapi kata Pak Haji, orang tersebut hanya datang seminggu sekali.
itupun banyakkan dan tidak pernah menginap di sini."

Kata Si Gendon sambil agak nyolot.

"Kita juga kan gak sendiri...
hihihihihihihihihih...."

Canda ku, seperti seorang pemberani.
padahal dalam hati membenarkan omongan si Gendon tersebut.


"TEEEENNGGG.... TEEENGGG.... TEEENNGGGG....!!!!"

Kami lihat si Polos memukul-mukul besi pintu gerbang dengan tangan kirinya.

Sedangkan tangan kanannya terus bergerak menyuruh kami untuk segera maju, memasuki halaman villa besar tersebut.

_________________________________________________________________
_______________________________________________________________________


Saat itu kami diminta Pak Haji, pemilik villa tersebut untuk merenovasi sedikit ruangan yang ada di villa tersebut.

Dari mulai memeriksa kelayakkan kabel-kabel listrik, mengganti lampu-lampu lama dengan lampu-lampu baru yang unik bentuknya yang baru Beliau beli online dari luar negeri.

Katanya agar suasana di setiap ruangan villa tersebut lebih nyaman dan bikin betah siapapun yang menempatinya.

Sedangkan untuk tugas mencat ulang villa tersebut akan diserahkan kepada orang lain yang biasa mengurus villa tersebut.

"Halooowwwww..... dengan Mang Daman ??'

Ku coba hubungi Mang Daman, salah seorang dari pengurus villa tersebut, melalui ponsel nokia 1100 kesayangan ku.

"Iya, Mas....."

Jawab mang Daman.

"Posisi sedang dimana, Mang ??"

Tanya ku.

"Masih di Jakarta, Mas... 
Sedang finishing di villa Pak Haji yang di Kedoya lama.
Malam ini juga beres.
Rencananya malam ini juga Mamang sama yang lain akan langsung meluncur ke Bandung untuk membantu pekerjaan Mas lani.
Mas sudah di Bandung ??"

Tanya mang Daman.

"iya, Mang...
Saya sama yang lainnya baru sampai.'

Jawab ku,
sambil mencoba rebahan di sebuah sofa empuk yang tadinya dibungkus plastik pelindung debu.

"Ya sudah nanti setelah beres pekerjaan disini Mamang sama yang lain akan langsung ke sana.
Mamang juga sudah siapkan kamar besar yang di depan untuk tempat istirahat Mas Lani sama yang lainnya."

"Kamar yang mana, Mang ??'

Tanyaku penasaran sambil celingak-celinguk mencari tahu kamar yang dimaksud oleh Mang Daman.

"Kamar depan yang di lantai dua, Mas.
Yang ranjangnya ada dua.
Besar-besar."

"Oke, Mang....  makasih banyak, Mang.."

---------------------------------------------
---------------------------