Jumat, 17 Maret 2017

Villa Putih (bag.1)

waktu kecil aku memang penakut.

tapi seiring waktu, seiring bertambahnya usia, rasa takut akan hal-hal ghaib itu mulai berkurang.

tapi kadang, bila harus mengalaminya sendirian, aku tetap takut.

hahahahahahahahahahahaha.......

________________________________________________
__________________________________________________

Hari itu,
aku, gendon dan polos harus berangkat ke Bandung.

Sesuai permintaan Pak Haji,
untuk melihat kondisi villa milik Beliau yang sudah lama tidak terpakai.

Lima tahun sebelumnya, villa tersebut pernah disewakan kepada seorang pengusaha china sebagai tempat tinggal isteri simpanan pengusaha tersebut.

namun hanya bertahan selama satu bulan,
isteri simpanan pengusaha berdarah tiongkok tersebut memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut.

katanya, dia dan beberapa pembantunya sering mengalami hal-hal yang membuat mereka tidak betah.
Bahkan ketakutan setengah mati.

Dari mulai sering terdengarnya suara yang aneh-aneh, sampai seringkali kehilangan isi dari kulkas mereka .
Terutama daging yang mereka simpan di dalam kulkas.

Hmmmmmmmm....??????

Apakah mungkin digondol tikus ??

Tapi sejak kapan tikus bisa membuka pintu kulkas ??

karena yang ku tahu, satu-satunya tikus yang bisa membuka pintu kulkas dan mengambil isinya hanyalah tikus gendut yang kini ada bersama ku.

Dialah Tikus Gendon.

Hihihihihihihhihihihihi.....

______________________________________________________________
___________________________________________________________________


Setelah sibuk tanya kiri tanya kanan, akhirnya sekitar jam dua siang kami tiba di villa tersebut.

Si Polos pun turun dari mobil kijang milik Pak Haji yang kami bawa, untuk membuka pintu gerbang yang dikunci dengan dua buah gembok besar yang terlihat mulai berkarat.

Untunglah masih bisa dibuka dengan kunci yang diberikan oleh pak Haji.

"Firasat ku gak enak, Lan.."

Terlihat wajah penuh keraguan si Gendon yang menjadi supir pribadi aku dan si Polos di hari ini.

Karena jujur saja, aku dan si Polos tidak bisa mengendarai mobil selihai si Gendon.

Dan Pak Haji pun tak pernah lagi mempercayakan aku dan si polos untuk mengendarai mobil miliknya.

Karena ujung-ujungnya pasti harus mengeluarkan biaya servis mobil di bengkel langganan Pak Haji.

huft..!!!!

"Buruan Woooooyyyy....!!!!!"

Teriak Si Polos sambil menyender, memeluk mesra ujung pintu gerbang yang baru saja dia buka.


"Coba perhatikan, Cuuyyyyy.....
Rumah besar mirip rumah Wong Londo zaman dulu, dengan cat putih sudah ngelotok di sana-sini,
dua lantai, jauh dari perkampungan penduduk,
sudah bertahun-tahun gak diisi.....
pastinyaaaaaaaaaaaaa..........hiiiiiiiiiiiiiiiii......."

Si Gendon bergidik tak berani meneruskan ucapannya.

"Tapi, coba perhatikan.
Rumput tamannya rapi.
Kaca-kaca rumah tersebut kayaknya masih sering dibersihkan.
coba perhatikan..."

Kata ku, sambil menunjuk ke arah taman dan deretan kaca rumah tersebut.

"Ya iyalah.....  kan ada yang orang yang bertugas mengerjakannya.
Tapi kata Pak Haji, orang tersebut hanya datang seminggu sekali.
itupun banyakkan dan tidak pernah menginap di sini."

Kata Si Gendon sambil agak nyolot.

"Kita juga kan gak sendiri...
hihihihihihihihihih...."

Canda ku, seperti seorang pemberani.
padahal dalam hati membenarkan omongan si Gendon tersebut.


"TEEEENNGGG.... TEEENGGG.... TEEENNGGGG....!!!!"

Kami lihat si Polos memukul-mukul besi pintu gerbang dengan tangan kirinya.

Sedangkan tangan kanannya terus bergerak menyuruh kami untuk segera maju, memasuki halaman villa besar tersebut.

_________________________________________________________________
_______________________________________________________________________


Saat itu kami diminta Pak Haji, pemilik villa tersebut untuk merenovasi sedikit ruangan yang ada di villa tersebut.

Dari mulai memeriksa kelayakkan kabel-kabel listrik, mengganti lampu-lampu lama dengan lampu-lampu baru yang unik bentuknya yang baru Beliau beli online dari luar negeri.

Katanya agar suasana di setiap ruangan villa tersebut lebih nyaman dan bikin betah siapapun yang menempatinya.

Sedangkan untuk tugas mencat ulang villa tersebut akan diserahkan kepada orang lain yang biasa mengurus villa tersebut.

"Halooowwwww..... dengan Mang Daman ??'

Ku coba hubungi Mang Daman, salah seorang dari pengurus villa tersebut, melalui ponsel nokia 1100 kesayangan ku.

"Iya, Mas....."

Jawab mang Daman.

"Posisi sedang dimana, Mang ??"

Tanya ku.

"Masih di Jakarta, Mas... 
Sedang finishing di villa Pak Haji yang di Kedoya lama.
Malam ini juga beres.
Rencananya malam ini juga Mamang sama yang lain akan langsung meluncur ke Bandung untuk membantu pekerjaan Mas lani.
Mas sudah di Bandung ??"

Tanya mang Daman.

"iya, Mang...
Saya sama yang lainnya baru sampai.'

Jawab ku,
sambil mencoba rebahan di sebuah sofa empuk yang tadinya dibungkus plastik pelindung debu.

"Ya sudah nanti setelah beres pekerjaan disini Mamang sama yang lain akan langsung ke sana.
Mamang juga sudah siapkan kamar besar yang di depan untuk tempat istirahat Mas Lani sama yang lainnya."

"Kamar yang mana, Mang ??'

Tanyaku penasaran sambil celingak-celinguk mencari tahu kamar yang dimaksud oleh Mang Daman.

"Kamar depan yang di lantai dua, Mas.
Yang ranjangnya ada dua.
Besar-besar."

"Oke, Mang....  makasih banyak, Mang.."

---------------------------------------------
---------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar