Malam telah datang.
Tak terasa sudah tiga jam lebih kami bertiga diam di kamar.
Tak berani keluar dari kamar.
Karena setelah aku dan si Gendon menceritakan semua kejadian yang kami alami, kami buru-buru menyalakan semua lampu di setiap ruangan rumah ini.
Kemudian kami langsung naik ke lantai dua dan masuk kamar.
Untungnya kamar ini adalah salah satu kamar utama yang dilengkapi kamar mandi di dalamnya.
Jadi kami bisa meminimalisir kejadian-kejadian yang mungkin bisa saja kami alami di luar kamar sana, bila kami kebelet pipis maupun yang lainnya.
---------------------
-------------------------------
Setelah selesai shalat Isya, kami kembali duduk di lantai berkarpet di kamar ini, sambil menikmati hangatnya kopi sachet yang kami seduh dengan air panas dari water heater yang kami bawa.
Masih terlihat wajah gelisah si Gendon, yang sesekali celingak-celinguk melihat ke arah pintu dan jendela.
Sedangkan si Polos malah terlihat santai sambil membentuk bulatan-bulatan dari setiap asap rokok yang dia keluarkan dari mulutnya.
Aku sendiri otak ku berputar memikirkan kejadian tadi sore.
Apakah rumah ini memang berhantu ??
Atau mungkin ada yang sedang usil ??
Hmmmmmm....??
Sepertinya aku mulai kebingungan....
-----------------------------------
--------------------------
Tiba-tiba diluar sana angin mulai bertiup agak kencang.
Tak berapa lama, sepertinya hujan gerimis mulai turun.
"Coba kamu hubungi lagi pak Haji, Lan...
Mudah-mudahan sekarang diangkat telponnya.."
Kata si Gendut, sambil bergeser duduknya mendekat.
Karena sejak kejadian sore tadi, aku langsung telpon pak Haji, pemilik rumah ini untuk memberitahukan kejadian yang kami alami.
Dan berharap Beliau berkata
"Sudah, batalkan saja pekerjaannya, terus kalian pulang saja demi keselamatan kalian".
Tapi setiap dihubungi selalu ada wanita yang mewakili pak Haji menjawab telpon kami
"Maaf, nomor yang hubungi sedang berada di luar area.
Cobalah hubungi beberapa saat lagi.."
---------------------------
"Sudah aku coba, Don..
Lihat... sampai batere hp ku tinggal 10% lagi..."
Kataku, menjawab permintaan si Gendon.
Kemudian aku berdiri menghampiri tas gendong kesayangan ku.
Kemudian ku buka dan ku keluarkan charger hp untuk men-cas hp nokia 1100 kesayangan ku yang baterenya tinggal 10% lagi.
-----------------------------------
Sepuluh menit kemudian,
"Teteteret tet tet teret....."
Terdengar suara ringtone espionage dari hp nokia 1100 yang tengah ku cas di atas meja dekat jendela kamar.
Kontan saja suaranya yang kencang dan tiba-tiba membuat kami sedikit kaget.
Segera aku berdiri untuk mengangkat telpon tersebut.
Berharap itu adalah telpon dari Pak Haji.
Saat ku angkat dan mau ku pencet tombol penerima telpon, tiba-tiba suaranya terhenti.
(Panggilan di akhiri).
Ku coba cek siapa yang baru saja menelpon, tapi ternyata tidak ada nomor kontak yang tercantum.
Ku coba cek lagi di folder Register untuk men-cek panggilan tak terjawab, ternyata cuma ada "panggilan tak terjawab" beberapa hari yang lalu, dari beberapa nomor yang tidak terdaftar di kontak.
"Dari siapa, Lan...??"
Tanya si Gendon.
"Gak tahu.... nomornya gak tercantum di daftar.."
Jawab ku, bingung.
"Mungkin mereka mau nanyain 'sedang ngapain kita di kamar ?'...."
Celoteh si Polos.
"Siapa...!!??"
Tanya si Gendon, penasaran.
"Ya... penghuni rumah ini kali..."
Jawab si Polos, santai.
SEEEEEEERRRRRRRRRRR.....
Tiba-tiba bulu kuduk ku merinding saat si Polos berkata seperti itu.
"Boa edaaaannnnn....!!!"
Si Gendon melotot menatap si Polos yang terlihat acuh tak acuh dalam keadaan seperti ini.
Ku coba mengingat-ingat kode untuk mengetahui panggilan terakhir yang masuk via layanan operator.
Tapi mendadak saat itu pikiran ku buntu dan lupa kode tersebut.
Saat aku berbalik untuk bertanya ke si Gendon tentang kode itu, tiba-tiba....
"Tetet telet tetet telet...."
Hp ku berbunyi lagi.
Dan saat hendak ku angkat, mati lagi.
Dan saat ku cek di daftar panggilan, masih sama seperti tadi.
----------------------------
-------------------------------------
"Kriiinnngggg... kriiiinnnngggg..."
Tiba-tiba terdengar seperti suara telpon rumah berdering di lantai bawah.
Si Gendon langsung berdiri dan menghampiri ku.
"Emang di rumah ini ada telponnya ??"
Tanya si Gendon kebingungan.
"Los, kamu lihat ada telpon rumah di ruang bawah ??"
Tanyaku ke si Polos.
"Setahu ku gak ada.
Lihat saja diluar.
Kabel jaringan telpon aja gak ada.."
Jawab si Polos sambil berdiri menuju pintu kamar.
"Eiiittttttzzzzz...!!
Mau kemana...!!??"
Si Gendon setengah melompat menahan langkah si Polos yang mendekati pintu kamar.
"Mau lihat ke bawah....
Kali aja ternyata telpon beneran..."
Jawab si Polos.
"Kalau ternyata gak ada...??"
Si Gendon berusaha menakuti agar si Polos tidak keluar dari kamar.
Dan sepertinya berhasil.
Akhirnya si Polos kembali ke tempat duduknya semula, kembali dengan mimik wajah acuh tak acuhnya.
------------------
------------------------
Selama kenal si Polos, memang banyak kejanggalan pada orang yang satu ini.
Orangnya "leumpeung.../ lurus...." seperti tak menyimpan banyak beban dipikirannya.
Menurut info dari kedua orang tuanya saat berkunjung ke kampung halaman si Polos,
Saat kecil dia pernah sakit panas (demam) tinggi.
Dan dirawat selama seminggu oleh orang pintar di kampungnya, yang jauh dari kota atau desa yang terdapat puskesmasnya.
Wajar saja, saat berkunjung ke kampung halamannya, dijamin malas tuk balik lagi.
Bukan karena suasana kampung halamannya yang memang indah dan masih murni alami,
Tapi memikirkan perjalanan pulangnya yang sangat jauh, tanpa akses kendaraan, bahkan untuk motor ojek sekalipun,
harus melewati hutan, sungai dan bukit yang sangat menguras mental dan tenaga.
Wajar saja bila tak ada satupun petugas layanan kesehatan pemerintah yang bermental manja yang sudi berkunjung ke sana.
Kecuali akhir-akhir ini.
Setelah adanya kegiatan kemanusiaan dan sosial "yang bermental baja" dari para generasi muda saat ini, yang rela mengabdikan sebagian waktu dalam kehidupannya untuk membantu sesama yang berada jauh di pelosok-pelosok sana.
Menurut orang tuanya,
Mungkin karena kejadian tersebut, akhirnya tumbuh kembang pemikiran si Polos jadi berbeda dibanding saudaranya yang lain.
Namun yang sangat ku sukai dari si Polos adalah kejujuran dan semangat dia saat bekerja.
Beda dengan si Gendon yang kadang ngutil sedikit dari setiap bon belanjaan.
Namun karena skill dan pengalaman yang dia punyai menjadikan nilai minusnya tersebut menjadi tertutupi di mata Pak Haji, bos kami saat ini.
Sedangkan aku, sebenarnya orang luar yang kebetulan kenal dengan pak Haji dan dipercaya karena selalu memberikan ide-ide sederhana yang masuk akal dan mampu mempersingkat jadwal pekerjaan namun tetap mengutamakan hasil yang optimal.
--------------------------------------------
----------------------------------------------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar