Sabtu, 03 Juni 2023

Villa Putih (Bag. 13)

Badan ku terasa sakit sekali.
Dibarengi rasa mual dan pusing yang sangat menyiksa.

"Hueeeekkkssss...!!!"
Kembali aku muntah darah....
Terasa sangat sesak napas ini.
Dan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang lebih dahsyat dari sebelumnya.

Terdengar suara si Polos membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil terus mengusap-usap punggung ku.

Aku coba berusaha untuk tenang.
Mengatur ritme napas ku.
Sampai akhirnya aku merasa sangat lemah sekali....

Dalam keadaan yang sangat menyiksa ini, tiba-tiba aku merasakan tubuh ku melayang......
Dan suara si polos yang membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an pun perlahan-lahan menghilang dari pendengaran ku....

_______________
_______________

Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Disaat tubuh ini terasa melayang-layang, sayup-sayup ku dengar hembusan angin sepoi-sepoi yang sangat sejuk.
Angin tersebut seolah masuk ke dalam tubuh, menuju rasa sakit di setiap sudut tubuh ku ini....
Rasa sejuknya perlahan-perlahan membuat rasa sakit itu menghilang dari tubuh ku.

Akupun berusaha membuka kedua mata ku yang dari tadi tertutup rapat menahan setiap rasa sakit yang ku rasakan.

Saat ku buka mata ini, ku lihat ada seorang kakek-kakek tengah duduk bersila tak jauh dari ku.

"Deeggghhhh...!!!"
Jantung ku langsung berdetak kencang.
Kaget dengan apa yang sedang ku lihat di depan ku ini.

"Kamu....!!??

Ku lihat di depan ku saat ini, sesosok wanita cantik berpakaian serba merah, menatap ku tajam, seolah sedang memarahi ku.....

" Gegabah....!!!"
Bentak wanita berbaju merah tersebut, sambil menatap tajam seolah penuh emosi kepada ku.

"Telat sedikit saja, kamu pasti sudah mati membusuk karena racun dari pukulan siluman ular penunggu pohon keramat itu...!!!"

Bentaknya....

"Kamu siapa...??"
Tanya ku...

"Sshhh..."
Desis wanita itu...

"Terima kasih sudah menolong aku.
Tapi kalau boleh tahu, kamu siapa ??
Terus, aku ada dimana sekarang ??"

Aku berterimakasih sambil berusaha untuk tetap tenang.
Walaupun dalam pikiran ku, aku sudah tahu pasti wanita ini bukan sebangsa manusia.
Kemungkinan besar dia adalah sebangsa jin perempuan.
Dan dari tampilan pakaian serta perhiasan yang menghiasi tubuhnya, aku yakin dia sejenis jin ifrit, atau ratu dari jin ular

"Nama ku Nawang....
Kamu sedang berada di antara alam manusia dan alam dari bangsa ku...."

Jawabnya sambil tersenyum ke arah ku.

Kini sorot mata itu tidak lagi terlihat tajam penuh emosi.

"Nawang...??
Nama yang cantik sesuai wujudnya..."

Aku jujur memujinya....

"Dasar lelaki gombal....
Tak usah kamu memuji ku seperti itu.
Nanti aku tunjukan wujud asli ku sebagai bangsa jin, apa kamu masih berani memuji kecantikan ku ...."

Kembali tatapannya menatap ku tajam, seolah menantang....

"Jangan....jangan.....
Aku lebih suka melihat mu dengan wujud seperti ini...."

Ucap ku, sambil berusaha mengakrabkan diri....

"Oya.... Sekali lagi, terimakasih sudah menolong ku..."

"Tak usah berterima kasih terus...
Aku gak butuh ucapan terima kasih kamu...."

Jawabnya lirih....

"Oya, kalau boleh tahu...
Kapan aku boleh pulang ke tubuh ku...??"

Tanyaku, penasaran...

"Hahahaha...
Ternyata kamu pintar juga.
Sepertinya kamu sudah tahu bahwa saat ini kamu sedang terpisah dari tubuh kamu...
Sebaiknya sekarang kamu sembuhkan dulu sukma mu ini.
Tubuh kamu di sana, sedang memulihkan dirinya sendiri.
Karena racun yang menyerang mu itu hanya menyerang sukma kamu.
Kalau sukma mu ini kalah oleh kekuatan racun itu, maka tubuh mu akan mati..."

Akhirnya aku paham semuanya.
Pantas saja, semenjak aku mendapat serangan dari ular penunggu pohon keramat itu, aku merasa ada yang tidak beres.
Aku merasakan rasa sakit yang sangat perih, seolah tubuh ku sedang terbakar oleh sesuatu yang sangat panas, tapi saat aku muntah darah, dan ku perhatikan bagian tubuh ku yang sakit tidak terlihat bekas luka apa pun di tubuh fisik ku ini.

"Hmmmm.....
Aneh...."

Gumam wanita itu, sambil mendekat, kemudian menatap tubuh ku penuh keheranan.

"Heh...??..."
Akupun dibuat bingung dengan tingkahnya ini.

Dia berjalan, memutari tubuh ku, sambil melihat-lihat setiap jengkal tubuh ku dengan rasa heran....

"Apa ada yang aneh...?"
Tanya ku kepadanya....

"Tidak.... Tidak.... Kok bisa ya...."

Gumamnya, sambil berkali-kali mengernyitkan dahinya....

"Maaf,... Apa ada yang aneh dengan tubuh ku ini...??"
Tanyaku kembali, kepadanya...


"Diam...!!!
Jangan bergerak...!!"
Tiba-tiba dia memegang wajah ku agar mengarah kepada wajahnya....

Dia menatap mata ku dengan sangat tajam.
Seolah tatapannya itu ingin menusuk kedua bola mata ku ini....

Tiba-tiba,
"Kamuuuuuu.....!!!!?????"

Dia bergerak mundur dengan cepat seolah ketakutan melihat diri ku....

"Heh....????"
Aku jadi bingung dengan tingkahnya kali ini....

"Kenapa...??
Ada yang aneh....???"
Tanyaku, sambil mendekati dirinya....

Tapi dia malah bergerak mundur.
Seolah ingin menghindari aku yang mendekatinya.

"Diam disitu...!!
Jangan mendekat ....!!"

Dia membentak ku sambil ketakutan...

Akhirnya aku pun diam di tempat.
Sambil memperhatikan raut wajahnya yang seperti bingung dan ketakutan.

"Hei....
Kamu kenapa...??"

Tanya ku, kepadanya....

"Hihihihihihihi.....
Kena tipu ni yeeeeee......!!!!
Kikikikikikikik......"

Tiba-tiba dia tertawa penuh kemenangan.

Akhirnya, beberapa saat kemudian aku baru sadar, sepertinya barusan aku dikerjai oleh dia.

"Satu, kosong....!!
Hihihihihi......"

Dia tertawa bahagia karena sudah berhasil mengerjai ku....

____    
________



Senin, 23 Mei 2022

Villa Putih (Bag. 12)

Hari sudah pagi.
Matahari suda makin terang menyinari bumi ini.

Aku, si Polos dan si Gendon celingak-celinguk, melihat keluar dar balik jendela.

Ku lihat bola kaca pelindung lampu taman yang ku pasang kemarin, pecah ...
Dan tiangnya pun sudah tergeletak di atas rumput taman.

"kurang ajar...!!"
Bisik ku dalam hati.

Akhirnya kami keluar.
Untuk memastikan semua benar-benar aman.

"Anjiiiinnngggg....!!!"

Kudengar suara si Gendon mengumpat marah.

"Gobloookkk...!!
Siapa yang sudah rusak mobil kita, Kang !!??"

Betapa marahnya si Gendon, saat melihat pada mobil pak Haji terdapat beberapa bekas pukulan pada samping kiri dan kanannya.
Penyok... Seperti bekas pukulan tangan atau apalah...

"Syetan apa freeman...??
Barbar banget..."
Celetuk si Polos.

"Ngajak ribut gede ini mah !!"
Si Gendon benar-benar kesal.

Tiba-tiba si Gendon berlari ke taman.
Menghadap ke arah pohon beringin tua, di luar pagar rumah ini.
Yang konon katanya, di dekat pohon inilah dulunya mayat Ki Jahad dikuburkan, setelah mati dihakimi oleh warga yang marah.

"Dasar goblok !!
Berani-beraninya rusak mobil Pak Haji..!!
Nantangin Pak Haji loe..!!
Kamu belum tahu gimana galaknya Pak Haji kalau sedang marah..!!
Jangankan gunung..., semutpun dia telan kalau sedang marah...!!"

Teriak si Gendon sambil nunjuk-nunjuk ke arah pohon beringin.

Tiba-tiba....
"seeeeerrrrrrr........."

Daun-daun pohon beringin tersebut bergerak-gerak seperti tertiup angin.
Padahal bila benar-benar tertiup angin seharusnya daun-daun pohon yang lain ikut bergerak.

"Seeeeerrrrrr... "
Tiba-tiba bulu kuduk ku merinding.

Dan tiba-tiba si Gendon berlari menuju ke arah ku dan si Polos.

"Ngambeuk... Broooo...
Kikikikikikikikik....."
Kata si Gendon sambil cekikikan.

__________
__________

"Kang....mumpung masih pagi.
Sebaiknya cepat-cepat pergi dari sini.
Biar tidak terjadi apa-apa sama kalian.."

Terdengar suara Abah Ujang dari dalam rumah.

Ku lihat ke dalam sana.
Abah Ujang menggerak-gerakkan tangan kanannya, sebagai isyarat agar kami cepat-cepat pergi dari sini.

Ku lihat juga wajah Yasmin dan yang lainnya, terlihat sedih tapi tetap berusaha tersenyum.
Seolah mendukung Abah Ujang, agar kami segera pergi  dari rumah ini.

"Pusaka Pak Haji yang semalam ditanam oleh Abah Ujang untuk memagari rumah ini hanya bertahan semalam.
Berarti malam ini sudah tidak ada pagar perlindungan lagi.
Berarti..... Mereka.... Malam ini...."

Kata si Polos, lirih.....
Sambil memandang ke arah ku.

"Kita bawa mereka, gak bisa.
Kita pergi tanpa mereka, berarti kita tegaan...
Kita tetap disini, resikonya mati..."

Kata si Gendon sambil memegang pundak kiri ku.

__________
__________

Aku dan si Gendon menghampiri pohon beringin angker tersebut.
Sambil menenteng beberapa botol bensin di tangan kami.

Kemudian kami siramkan bensin-bensin dalam botol tersebut ke batang besar pohon beringin itu.

Setelah itu si Gendon langsung ngacir menuju si Polos yang menunggu dekat gerbang mengawasi kami.

Niat ku ingin membakar pohon beringin tersebut.
Agar Ki Jahad dan para pengikutnya, yang menurut kami bersembunyi di dalam pohon tersebut musnah terbakar.

Tapi sesuatu di luar nalar terjadi.

Pohon beringin tersebut bukannya terbakar.
Malahan bensin-bensin tersebut tidak mau menyala saat aku bakar pakai korek.

Dan tiba-tiba, 

"BUUUUUKKKK...!!!"

Tubuh ku terlempar beberapa meter, menjauh dari pohon tersebut.
Seolah dipukul oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Sesak.
Pusing.
Dan,

"Huweeexxzzss..!!"

Akupun muntah darah.

Tiba-tiba si Polos dan si Gendon sudah memegangiku.
Mereka membopong tubuh ku, masuk kembali ke dalam rumah.

"KO lagi..."
Kata si Gendon.

__________
__________



Minggu, 22 Mei 2022

Villa Putih (Bag. 11)

Setelah semalaman berusaha tetap terjaga.
Disertai suara-suara yang mengganggu di luar sana.
Akhirnya terdengar suara tahrim dari arah perkampungan di bawah sana.

Berarti hari sudah subuh.

Kemudian suara-suara Ki Jahad dan anak buahnya di luar sana, mulai menghilang.

Terakhir kalinya, terdengar suara kakek-kakek dengan suara yang sangat berat, berteriak-teriak mengancam.

"Kali ini kalian selamat !!!
Saya akan kembali menghabisi kalian..!!
Manusia-manusia tolol...!!
Akan aku musnahkan kau Ujang..!!!
Dasar murid tak tahu diri...!!!
Dan akan aku kawini kamu Yasmin..!!
Aku jadikan budak nafsu ku..!!
Dan akan aku jadikan kalian budak-budak ku...!!!"
Suara tersebut mengancam, kemudian menghilang.

__________
__________

Ternyata, Abah Ujang ini dulunya pernah menjadi muridnya Ki Jahad.
Tapi semenjak bekerja di rumahnya keluarga Yasmin, dan sering berdiskusi dengan kedua orang tua Yasmin, akhirnya saat itu Abah Ujang sadar.
Bahwa selama membantu Ki Jahad mengobati warga yang sakit, sebenarnya Dia telah ikut serta membodohi warga, dengan cara-cara klenik.

Abah Ujang masih ingat dengan ucapan ibunya Yasmin saat itu.

"Kalian makhluk beragama.
Sama seperti saya.
Walaupun agama dan keyakinan kita berbeda.
Kenapa tidak meminta pertolongan sama Tuhan kalian.
Berdo'a.... Saat kalian mendapatkan masalah.
Kenapa saat kalian sakit malah meminta pertolongan dukun ??
Bukannya berobat kepada dokter atau orang-orang yang mengetahui ilmu-ilmu pengobatan ??
Ngapain orang sakit disuruh belanja ini itu untuk sesajen.
Ngasih makan jin.
Daripada buat beli syarat-syarat seperti itu, mendingan kalian belikan obat-obatan.
Atau pergi ke dokter.
Kalau kalian merasa tidak punya uang untuk pergi ke dokter, kalian bisa kesini.
Minta tolong sama suami saya.
Dia seorang dokter juga.
Nanti kalian gak usah bayar.
Kami kasih gratis.
Asal kalian sehat, saya dan suami sudah senang.."

Itulah yang akhirnya membuat Abah Ujang dan warga sekitar, saat itu, sangat dekat dengan keluarga Yamin.

Walaupun ayahnya Yasmin saat itu adalah seorang dokter militer tentara Belanda yang sedang menjajah negeri ini, tapi mereka tidak pernah bertindak kasar kepada warga pribumi sekitar.

Bahkan ibunya Yasmin memberi kesempatan belajar gratis kepada warga pribumi sekitar yang ingin belajar membaca, menghitung dan menulis.

Perbedaan strata dan jabatan antara keluarga Yasmin dan warga sekitar bukanlah penghalang.

Bahkan Yasmin sendiri sering bermain bersama anak-anak warga yang lain, walaupun hanya di dalam lingkungan rumah tersebut.

Ucup, anak warga yang sering membawakan pesanan telur ayam pun sudah terbiasa keluar-masuk di rumah ini.
Dan sudah dianggap adik oleh Yasmin.

Dan Ucup ini meninggal tertembak saat mencoba menolong Yasmin yang sudah tertembak lebih dahulu saat sedang mencoba berlari menuju rumah.

Karena saat itu Ucup memakai pakaian yang bagus, pemberian Yasmin, seperti pakaian anak-anak Belanda, makanya Ucup dikira anaknya pemilik rumah tersebut.
Dan akhirnya jadi sasaran tembak.

_______
_______


Villa Putih (Bag. 10)

Antara sadar dan tidak, aku mendengar suara tangisan Yasmin dan beberapa suara yang lainnya memanggil-manggil nama ku.

Kurasakan juga tubuh ku yang digoyang-goyangkan oleh seseorang.

Aku bisa mendengar semua suara-suara itu.
Aku bisa merasakan goyangan-goyangan pada tubuh ku.
Tapi aku tidak bisa membuka mata ku.
Dan badan ku terasa sangat lemah untuk digerakkan.
Bahkan untuk menggerakkan jari jemari tangan ku saja rasanya sangat berat.

Aku berusaha untuk bersuara, tapi seperti ada sesuatu yang menahan di tenggorokkan ku, agar aku tidak bersuara.

Tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang menyengat di hidung ku.
Dan terasa ada tangan yang mengelus-elus pundak ku.
Terasa sangat hangat dan sedikit demi sedikit akhirnya akupun tersadar, dan bisa membuka kedua mata ini.

____________
____________

Dengan badan yang terasa remuk, aku terduduk lemah sambil bersandar pada Yasmin yang terus menerus berkata

"maafkan Yasmin, Kang...
Gara-gara Yasmin.. Akang jadi seperti ini..."

"Maafkan Abah juga, Kang...
Andai saja Abah tidak terlambat membantu, mungkin Akang tidak akan mengalami kejadian ini."
Kata Abah Ujang.

"Sudah...jangan pada sedih seperti ini...
Saya baik-baik saja kok..."
Kata ku, untuk menenangkan mereka.

"Nomor Pak Haji kok gak aktif-aktif sih !!???"
Kata si Gendon.
Sepertinya dia sedang berusaha menghubungi Pak Haji lewat hp miliknya.

Sambil celingak-celinguk aku menanyakkan si Polos sama mereka.
Aku mendadak khawatir, soalnya saat kejadian tadi aku sempat melihat si polos ikut terhempas saat ada angin kencang yang masuk lewat jendela tadi.

"mana si Polos ??"
Tanya ku...

"Dia sedang mengaji di ruang tamu, ditemani Mang Asep..."
Jawab Abah Ujang.

"oya, siapa makhluk yang tadi ??"
Tanya ku penasaran.
Menanyakkan makhluk hitam tinggi besar yang tadi menarik-narik Yasmin, yang kemudian berubah jadi bola api setelah aku serang.

"Dia anak buah jin khorinnya Ki Jahad.
Dukun jahat yang pernah saya ceritakan kemarin.."
Jawab Abah Ujang.

"Sebaiknya Akang Lani jangan mikirin yang berat-berat dulu.
Lebih baik istirahat saja.
Biar cepat pulih.
Abah sudah pasang pusaka pemberian Pak Haji untuk memagari rumah ini.
Agar Ki Jahad dan anak buahnya tidak bisa masuk ke rumah ini.."
Kata Abah Ujang.

"walaupun kekuatannya hanya sementara, setidaknya kita semua aman sampai besok pagi..."
Mr. Alex menambahkan...

"Terus besok gimana !!??"
Si Gendon mendadak ngegas...

"Besok pagi, Kang Lani, Kang Gendon dan Kang Polos bisa pergi dari sini.
Biar kalian selamat..."
Kata Yasmin...

"Terus bagaimana dengan kalian..!!??"
Terdengar suara si Polos yang sedang berdiri di pintu kamar.

"Oya.. Kalian kan bisa ikut sama kami ke Banten.
Kita laporin semuanya sama Pak Haji.
Biar nanti Pak Haji yang hajar Ki Jahad dan anak buahnya..!!"
Kata si Gendon penuh semangat.

Terlihat raut wajah Yasmin, Abah Ujang dan yang lainnya.
Bukannya terlihat senang dengan ide si Gendon.
Tapi mereka terlihat sedih dan saling memandang satu sama lainnya...

Ku lihat wajah Mbok Ijah dan Mbok Inem seperti berusaha tersenyum lemah saat berpandangan dengan Yasmin.
Dan Yasmin pun seolah berusaha membalas senyuman mereka, dengan senyuman yang terlihat lemah juga.

"Kalau besok kita pergi, mereka gak bisa ikut kita, Kang..."
Si Polos kembali bersuara.

"Maksudnya...??"
Tanyaku penasaran.

"Mereka semua Jin Khorin yang sudah dipagari.
Mereka semua tidak bisa keluar dari wilayah rumah ini.
Kalau mereka melanggar, berusaha keluar dari wilayah rumah ini, mereka akan hancur lebur.."
Kata si Polos.

"seperti Asih..."
Kata ku dalam hati.

________
________

Asih... Jin Khorin cantik tapi jahil.
Yang hampir saja dimusnahkan oleh Pak Haji karena kejahilannya itu.

Tapi saat Pak Haji akan memusnahkannya, aku menghalanginya.
Aku mendebat Pak Haji dan beberapa santri dekatnya, yang ingin memusnahkan Asih.

Walaupun saat itu aku adalah salah satu orang yang sering jadi korban kejahilan Asih.
Bahkan hampir mati masuk jurang karena ketakutan dikejar oleh Asih saat melintasi hutan menuju pesantren Pak Haji yang letaknya ada di tengah hutan.

Pas aku terperosok jatuh ke sebuah jurang, justru Asih sendiri yang menyelamatkan aku.

Dia terbang menyusul ku.
Membawa aku kembali ke atas.
Kemudian dia terbang menjauh dan menyuruh ku pergi.

Saat aku pergi, aku sempat melihat tatapannya yang dipenuhi penyesalan.

Sejak saat itu, aku merasa, Asih yang terkenal suka jahil ini sebenarnya tidak pernah bermaksud mencelakai manusia.
Apalagi membunuh mereka.

Memang...
Pernah ada orang yang dicelakainya sampai mati.
Tapi menurut informasi yang ku dapat dari seseorang, orang tersebut mati karena niat buruknya sendiri.

Dia mencoba menaklukkan Asih agar bisa diperisteri, untuk dijadikan pesugihan, agar dia bisa sakti dan kaya raya.

Karena marah, akhirnya Asih membunuhnya.
Karena pilihan Asih saat itu hanya dua, tunduk atau melawan.
Tunduk, berarti dia harus mau diperbudak.
Melawan, berarti dia harus bertempur sampai salah satu dari mereka mati.
Dan akhirnya Asih menang.

Alasan Pak Haji ingin memusnahkannya, karena Pak Haji mendapat informasi dari salah satu muridnya, bahwasanya Asih sering meminta tumbal nyawa pada waktu-waktu tertentu.

Akhirnya Pak Haji marah dan berniat memusnahkannya.

Aku dan si Polos yang saat itu ikut rombongan Pak Haji, berpikir Pak Haji mungkin hanya akan menundukkannya.
Kemudian memindahkannya ke tempat lain.
Bukan memusnahkannya.

Tapi karena Asih yang wataknya keras kepala.
Tidak mau tunduk siapapun.
Memilih bertempur sampai mati.
Dan Pak Haji pun sempat kewalahan menghadapinya.
Disertai hasutan salah satu muridnya yang terus mengompori Pak Haji, agar Beliau memusnahkan Asih.
Pak Haji pun hampir saja memusnahkannya.

Namun aku menghalanginya.
Aku mendebat Beliau secara logika.
Dan si Polos, yang merupakan salah seorang keponakkan Beliau ikut membantu ku.

Akhirnya Pak Haji sadar bahwasanya dia tengah diadu domba oleh salah seorang muridnya.

Hingga akhirnya terbongkar niat busuk dari salah seorang murid Pak Haji ini.

Ternyata dia pernah diam-diam mencoba menaklukkan Asih, karena tergoda oleh kecantikkan Asih, dan berkali-kali pernah mencoba menundukkan Asih agar bisa diperisterinya.

Namun selalu gagal.
Dan saat Asih mencoba memberinya pelajaran, dia selalu bersembunyi di pesantren milik Pak Haji.
Jadi, tak bisa mengejarnya ke sana.

Akhirnya Asih pun tak jadi dimusnahkan oleh Pak Haji.
Tapi demi kebaikkan bersama, Asih dipindahkan ke suatu tempat yang tersembunyi.
Pak Haji pun memagari tempat itu, agar Asih tidak bebas keluyuran dan mengganggu manusia.

Aku dan si Polos pernah mendatangi tempat tersebut, atas ijin Pak Haji.
Aku bertemu Asih.
Dia tersenyum senang menyambut kedatangan ku.
Dia memang sengaja meminta Pak Haji untuk bertemu dengan ku dan si Polos.
Untuk berterima kasih.
Dan sekaligus meminta maaf karena pernah menjahili aku, sampai aku hampir mati masuk ke jurang.

Katanya dia sangat menyesal.
Dan sejak itu, kalau dia melihat ku melewati hutan, menuju pesantren Pak Haji, dia tidak pernah lagi berani mendekati ku.
Hanya memperhatikan aku.
Dan menjaga ku agar tidak diganggu oleh jin yang lainnya saat di perjalanan.

Makanya, kalau malam-malam aku datang ke pesantren, salah satu murid kesayangan Pak Haji sering meledek aku.
Katanya "kesayangan si merah datang.."

_______
_______





villa putih (bag. 9)

Besok harinya kami mulai mengerjakan tugas-tugas kami.

Mengganti lampu-lampu lama dengan yang baru.

Memeriksa jaringan kabel listrik.
Mengganti beberapa kabel yang sudah rapuh dengan yang baru.

Juga memperbaiki lampu-lampu taman yang sudah pecah dan rusak, dengan yang baru.

Mengganti kabel-kabelnya yang sudah rapuh karena bertahun-tahun terkubur tanah.

Di bantu oleh dua orang warga sekitar, yang dipercaya oleh Pak Haji untuk datang membersihkan area taman di rumah ini.

Saat sore hari, saat kami beristirahat, tiba-tiba Mang Daman, salah satu mandor kepercayaan Pak Haji nelpon.

"Assalamu'alaikum, Mas Lani..."

"Wa'alaikumsalam, Mang.... Sudah nyampe mana, Mang ??"

Dengan nada berat hati, Mang Daman menjawab.

"Waduh... Gimana nih Mas...
Pekerjaan saya disini belum beres.
Jadinya belum bisa kesana sekarang.
Paling 2-3 harian lagi baru bisa kesana, bantuan Mas Lani.."

Dengan agak malas juga, aku memakluminya.

"Ya sudah.. Gak apa-apa, Mang.
Oya, Mang...
Pak Haji ada kesana gak ??
Dari tadi siang saya telpon gak aktif mulu nomornya"

Mang Daman menjawab,
"gak ada...
Kan Pak Haji lagi berziarah ke Madura, bawa rombongan."

"waduuuuhhh.... Gimana sih...
Ada yang mau ditanyain sama Beliau.
Penting banget nih..!!"
Jawabku sedikit kesal.

"Mau tanya apaan emang, Mas ?"
Tanya Mang Daman.

"Oya.. Mang Daman kan pernah kesini.
Pernah nginap juga disini.
Boleh nanya sesuatu gak, Mang ??"
Tanyaku sama Mang Daman.

"hmmmm...."
Terdengar suara Mang Daman bergumam.

"Pasti mau tanya hal-hal mistis disana ya ??"
Tanya Mang Daman.

"i..iya, Mang..!!"
Jawab ku refleks.

"Mas Lani digangguin juga ya, semalam ??"
Tanya Mang Daman penasaran.

"iya, Mang...
Tapi masih bisa terkendali, Mang...
Hehehehe...."
Jawab ku.

"Hebaaatt....!!!
Mang Daman sama yang lain, dulu sampai kabur loh dari sana.
Gak kuaaatt...!!
Hantu-hantu di sana pada usil !!
Anak buah mamang sampai pada sakit sepulang dari sana.
Bahkan selama dua malam tinggal disana, Mamang susah tidur.
Ada aja kejadian yang gak masuk akal dan bikin merinding.
Bahkan ada anak buah Mamang diseret-seret ke luar saat tidur di kamar atas.
Konon katanya kamar itu dulunya kamar tidur noni Belanda, yang meninggal di sana.
Ada juga anak buah Mamang yang ketiduran di sofa, pas bangun wajahnya penuh coretan cat.
Kayak cat lukis gituh...!!
Bahkan siang harinya, saat anak buah Mamang mau ngecat tembok di belakang rumah.
Kan tinggi tuh....
Pas naik tangga, tangganya ada yang goyang-goyangin, sampai akhirnya anak buah Mamang terjatuh.."

Mang Daman terus cerita pengalaman-pengalaman dia dan anak buahnya selama tinggal di sini.
Hingga tak terasa sudah jam setengah enam sore.

Akupun mengakhiri percakapan ku dengan Mang Daman.
Kemudian pergi mandi.

Setelah beres mandi kemudian pergi ke dapur.
Niat ku sih mau masak nasi liwet dengan menu alakadarnya.

Tapi saat sampai di dapur, ku lihat sudah ada nasi liwet dan ikan asin serta sambal dan sayuran, terhidang di atas meja makan.

Pikir ku, pasti si polos yang memasaknya.

Akhirnya akupun makan duluan.
Sedangkan si polos dan si Gendon masih di kamar atas.

Tiba-tiba,
"Minumnya, Den..."

Tiba-tiba ada suara perempuan paruh baya menyapa ku dari belakang.

"Jangan takut, Den...
Saya Mbok Ijah..."
Terlihat seorang wanita paruh baya nongol di samping kanan ku sambil membawakan segelas air teh hangat.

"oohhh... Mbok..."
Bisi ku sambil menahan rasa kaget.

"jam segini udah keluar ya...??"
Tanyaku...

"Kita mah sebenarnya bebas mau keluar kapan pun, Den...
Cuma kalau siang biasanya kita tidur.
Istirahat..."
Jawab Mbok Ijah.

"Yasmin udah bangun, Mbok ??"
Tanya ku lagi.

"laahhh... itu di sebelah Akang siapa ??"
Jawab Mbok Ijah sambil memberi isyarat ke sebelah kiri ku.

Pas ku lirik, ternyata Yasmin tengah duduk di kursi sebelah kiri ku.

"hihiiiiii.... Padahal dari tadi loh Yasmin duduk disini.
Lihatin Akang makan.
Masakannya enak gak ??"
Tanya Yasmin...

"Enak..."
Jawab ku singkat.

"itu buatan Mbok Ijah sama Mbok Inem loh..."
Kata Yasmin.

"oohhh.... Kirain si polos yang masakin.
Terus... Ini ikan asin dari mana ??
Jangan-jangan ini ikan asin dari alam ghaib..
Hihihihihi..."
Kataku sedikit bercanda.

"hahahaha... Bukan laaahh...
Ini semua Abah Ujang ambil dari mobil kalian.
Tadinya memang mau bawain dari alam jin.
Tapi kata Abah Ujang gak boleh.
Kecuali terpaksa.
Toh.. Kata Abah Ujang, kalian bawa persediaan makanan sendiri untuk stok selama kalian bekerja disini.."
Kata Yasmin menjelaskan.

"hahaha... Kalian bisa saja..."
Aku tertawa, padahal masih bingung...

__________
__________

Malam pun tiba.

Selesai shalat Isya berjama'ah dengan si Gendon dan si Polos, kemudian kami membuat perencanaan pekerjaan untuk besok.
Sambil di temani Yasmin yang lirik kiri lirik kanan mendengarkan pembicaraan kami.
Dan juga Ucup yang terus memeluk si Polos dari belakang.
Seperti anak kecil yang tak mau jauh dari bapaknya.

Sedangkan di pojok kamar ada Mr. Alex yang tengah melukis kami.
Katanya untuk kenang-kenangan.

Tiba-tiba terdengar dentuman keras dari luar.

"DUAAARRRR....!!!"

Kami pun kaget.
Aku, Si Gendon dan si Polos langsung berjalan menuju jendela, untuk melihat ke luar.
Sedangkan si Ucup langsung berlari keluar dari kamar, seperti ketakutan, dan berteriak-teriak memanggil-manggil Abah Ujang.

Mr. Alex langsung menghampiri Yasmin.
Mereka semua terlihat sangat ketakutan.

Saat aku mau melihat keluar melalui jendela kamar yang terbuka, tiba-tiba angin kencang datang seperti menubruk wajah dan tubuh ku.

Dan akhirnya akupun terjatuh, berbarengan dengan si Gendon dan si Polos.

Saat hendak bangun untuk menutup jendela yang terbuka tersebut, tiba-tiba napas ku terasa sesak.
Ada hawa panas yang seolah ingin menguasai kesadaran diri ku.

Makin lama kepala ku makin pusing.
Pandangan ku mulai kabur.

Terdengar suara Yasmin yang berteriak-teriak ketakutan minta pertolongan.

Refleks, aku paksakan kesadaran ku untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan Yasmin.

Ku lihat Yasmin, seolah sedang diperebutkan oleh Mr. Alex dan sesosok makhluk hitam tinggi besar yang terus menarik-narik tangan kiri Yasmin.
Sedangkan tangan kanannya dipegangi oleh Mr. Alex, yang terlihat mulai kewalahan.

Dengan tenaga yang tersisa, sambil menahan rasa sesak, pusing dan sakit di sekujur tubuh ku, aku berusaha bangkit dan mencoba menghajar makhluk hitam tinggi besar tersebut.

Sambil meneriakkan kalimat takbir, aku maju dan mencoba mencoba menyerang makhluk tersebut.

"Allahuakbaaarrrrr....!!!"

Dan, 
"buuukkkk....!!!"

Makhluk itupun terkena pukulan ku.
Dia terjatuh, berubah menjadi api, kemudian melesat terbang keluar melalui jendela kamar yang terbuka.

Kepala ku makin terasa pusing, napas ku makin terasa berat.
Kemudian aku tidak sadarkan diri.

_________________
__________________

Sabtu, 21 Mei 2022

Vila Putih (Bag. 8)

Tak berselang lama, akhirnya kami semua duduk bersama.
Sambil menikmati segelas kopi hangat dan cemilan yang disuguhkan oleh mereka.

Tak ada lagi rasa takut dalam diri saya dan si Gendon terhadap mereka, para makhluk halus penghuni vila putih ini.

Kami ngobrol ngaler ngidul.
Bercanda...
Hingga akhirnya kami mengenal satu sama lain.

Dan akupun jadi tahu, kenapa orang-orang sebelum kami, yang pernah datang untuk memperbaiki rumah ini selalu kabur ketakutan.

Karena mereka memiliki niat buruk setelah melihat isi dari rumah ini.
Di dalam rumah ini ternyata masih banyak perabotan zaman dulu, yang terbilang antik, dan bisa dijual mahal kepada para kolektor barang antik.

Seperti bundaran lampu hias yang menerangi rumah ini.
Ternyata bukan sembarang kuningan.
Tapi mengandung emas.
Juga beberapa pas bunga yang ada di rumah ini, ternyata pas bunga zaman dulu, dan sangat antik.

Pak Haji, pemilik rumah ini, yang menyuruh kami datang kesini, ternyata dulunya adalah keturunan dari penjaga rumah ini.
Dan karena sudah turun temurun menjaga rumah ini, akhirnya masyarakat sekitar menganggapnya sebagai pemilik rumah ini.

Dan beberapa orang yang katanya pernah menyewa rumah ini, ternyata bukan penyewa.
Tapi orang-orang kepercayaan Pak Haji yang dipercaya oleh Beliau untuk menempati dan menjaga barang-barang antik di rumah ini.

Namun mereka akhirnya tergoda untuk mencuri satu persatu barang-barang antik di rumah ini.

Hingga membuat Yasmin dan para makhluk halus penghuni rumah ini marah.
Dan akhirnya mengusir mereka.

Terutama saat salah satu dari mereka pernah mencoba mencuri sebuah cermin kecil kesayangan Yasmin, saat dulu Yasmin masih hidup.
Dan Yasmin hampir saja membunuhnya, tapi dicegah oleh Abah Ujang, kakek-kakek salah satu makhluk halus penghuni dari rumah ini.

Dan paling jahil dari mereka adalah Mr. Alex.
Dulunya dia adalah seorang pelukis dari Belanda, yang diundang oleh orang tua Yasmin, untuk melukis keluarga dan pemandangan di sekitar tempat ini.

Mr. Alex ikut tertembak saat mencoba menolong Ucup, anak warga sekitar yang tertembak saat mengantarkan telur ayam pesanan keluarga Yasmin.

Kedua orang tua Yasmin selamat dari penyerangan saat itu karena ditolong oleh beberapa pemuda sekitar, yang merupakan murid dari ibunya Yasmin.

Pada saat itu, Ibunya Yasmin sering mengajar anak-anak muda warga sekitar.
Agar mereka setidaknya bisa membaca, menulis dan berhitung.

Sedangkan Bapaknya Yasmin adalah seorang dokter militer pada masa itu.
Beliau sering mengobati warga sekitar yang sakit.
Dan karena ini, ada seorang dukun pengobatan yang merasa tersaingi dan menghasutnya.
Yang kemudian melaporkannya kepada para gerilyawan yang kala sedang melintas tak jauh dari perkampungan ini.
Dukun tersebut mengatakan kepada para gerilyawan bahwa Bapaknya Yasmin sering mendatangi rumah-rumah warga untuk menghasut warga agar membenci para gerilyawan.

Hingga akhirnya, para gerilyawan menyerang rumah kediaman Yasmin.

Kedua orang tua Yasmin selamat karena ditolong oleh para pemuda dan warga yang sedang belajar di rumah Yasmin pada saat kejadian.
Kemudian dibawa oleh warga untuk menghadap komandan para gerilyawan untuk mendapatkan pengampunan, dengan alasan bahwa kedua orang tua Yasmin sering membantu warga dan tidak pernah berbuat jahat terhadap warga pribumi.

Akhirnya kedua orang tua Yasmin hanya ditahan.
Dan pada akhirnya dibebaskan.

Sedangkan dukun penghasut dihukum oleh warga dengan cara yang sangat sadis.
Dampak dari kemarahan warga pada saat itu.

Konon, mayat dari dukun ini dikuburkan tak jauh dari rumah ini.
Dan jin khorinnya bersama jin-jin peliharaan sang dukun sering datang untuk membalas dendam.

Kata Abah Ujang, dulu ada penghuni rumah ini mati mengenaskan.
Dan warga sekitar menganggap mereka mati dibunuh oleh makhluk halus penghuni rumah ini (Yasmin dan yang lainnya).
Padahal jin khorin dukun dan jin-jin jahat pengikutnya yang melakukan semuanya itu.

Yasmin pun hampir dibawa oleh mereka untuk diperisteri jin khorin sang dukun.
Tapi berhasil diselamatkan setelah Abah Ujang meminta bantuan Pak Haji, pemilik rumah ini.

Yasmin dan yang lainnya diijinkan oleh Pak Haji untuk tetap menghuni rumah ini.
Tapi karena Pak Haji menikah dengan orang Banten, dan isterinya tidak mau tinggal disini, karena jauh dari perumahan warga, akhirnya Pak Haji ikut pindah ke Banten.

Namun sebelum pergi, Pak Haji sempat memagari rumah ini agar tidak bisa dimasuki oleh Jin Khorin sang dukun dan jin-jin jahat pengikutnya, agar Yasmin dan yang lainnya tetap aman disini.

Tapi, kata Abah Ujang, kekuatan dari pagar itu sudah sangat rapuh.
Dan pilar utama dari pagar itu sudah hilang, karena ada penjaga taman, yang selama ini sering datang kesini untuk membersihkan taman tanpa sengaja mengencinginya.

Sekarang, Jin khorin sang dukun yang bernama Ki Jahad dan pengikutnya bisa masuk dengan mudah.

Apalagi saat mereka tahu ada manusia yang datang dan menginap disini.
Mereka pasti akan datang dan membuat celaka.
Makanya Yasmin, Abah Ujang dan yang lainnya sepakat untuk berkomunikasi dengan kami.
Untuk mengingatkan kami.

Dan ini pertama kalinya mereka melakukan ini, semenjak berpisah dengan Pak Haji.

Informasi yang didapat dari mereka, cukup membuat ku merinding, tapi penasaran.
Terbersit niat ku untuk menghubungi Pak Haji besok hari.
Untuk mengkomfirmasikan informasi tersebut.
Dan meminta petunjuk dari Beliau, bila terjadi sesuatu selama kami disini.

Soalnya, pekerjaan yang harus kami kerjakan disini tak akan selesai dalam sehari.
Mungkin butuh tiga sampai lima hari.
Itupun jika tidak ada kendala, yang akan membutuhkan waktu tambahan bagi kami untuk bekerja.

Setelah terus ngobrol, akhirnya Si Gendon dan aku mulai merasa ngantuk.
Sedangkan Si Polos sudah tertidur duluan di atas sofa dan dipasangi selimut oleh Mbok Inem.

Yasmin menyadari ini, kemudian menyarankan aku dan si Gendon untuk beristirahat.

"Sepertinya Akang sudah pada ngantuk ya ??
Ya sudah... Pada tidur gih, sana...
Biarin Kang Polos tidur disini aja, dijagain kok sama kami.
Kasihan kalau dibangunin.
Lagi nikmat-nikmatnya tidur dia..."

Aku dan si Gendon akhirnya pamitan.
Naik ke kamar atas untuk tidur.

______________
______________

Jumat, 28 Januari 2022

Villa Putih (Bag.7)

"Don....!!!
Dooooonnnnn.....!!
Bangun, Doooonnnn...."

Ku lirik ke sebelah kiri ku.

Ku lihat si Polos sedang memegangi si Gendon sambil menggoyang-goyangkan badannya.

Sedangkan aku hanya bisa berdiri,
namun kaki ini serasa lemas untuk berbuat sesuatu.

"Uuppsss.. !!
Abaaaahhhh....
tolongin dong, Bah...!!"

Terdengar suara wanita itu memanggil-manggil seseorang....

Tiba-tiba muncul sesosok kakek-kakek yang langsung menghampiri si Gendon yang tengah tak sadarkan diri.

"Maafin Yasmin ya, Kang..."

Tiba-tiba wanita itu sudah berada di sebelah kanan ku, sambil telapak tangannya diusapkan ke wajah ku.

Terasa ada hawa aneh menyapu wajah ku.

Namun hawa aneh tersebut membuat jantung ku yang tadinya dag dig dug kencang karena kaget dan takut, mulai tenang.

Dan saat telapak tangan ini turun melalui wajah ku, kulihat wajah wanita tersebut menatap ku tenang sambil berkata lirih...

"Maafin Yasmin ya, Kang....
Yasmin gak bermaksud nakutin Akang dan teman Akang...
Yasmin hanya ingin menunjukkan diri Yasmin agar kita bisa saling mengenal...."

bisiknya lirih.....

"Iya... gak apa-apa...."

Hanya itu yang sanggup ku katakan.

-------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya si gendon tersadar.

Maka aku dan si polos menceritakan semuanya pada si gendon.

Tentang apa yang telah terjadi, dan niat dari para makhluk penghuni rumah ini sebenarnya.

Akhirnya si gendon mengerti dan siap diajak keluar dari kamar untuk menemui para makhluk penghuni rumah ini yang sedari tadi menunggu kita di ruang bawah.

"tapi dijamin mereka gak akan celakakan kita kan?" kata si gendon saat keluar dari kamar.

"mereka bilang sih gak akan lakuin hal itu sama kita bertiga, tapi gak tahu kedepannya bakal gimana..." si polos berkata lirih sambil nyelonong pergi duluan menuruni anak tangga.

Si Gendon auto menatapku penuh keraguan.

"tenang aja... Tadi Yasmin bilang mereka gak bermaksud menakuti kita kok. Apalagi sampai punya niat mencelakakan kita" kata ku.

"Yasmin !!??" tanya si gendon kepada ku.

"iya... Wanita yang tadi tiba-tiba nongol di kamar, ngagetin kita, sampai kamu pingsan segala.." jawab ku.

"beuuuhhhh...!!! Siapa yang pingsan ?? Aku tuh cuma mendadak lemes aja kok. Aku masih bisa dengar suara kalian dari tadi. Cuma mataku terasa berat banget saat mau dibuka. Malah saat aku dengar suara wanita yang ngakunya bernama Yasmin aku dengar. Hanya mataku ini susah banget mau dibukanya" celoteh si Gendon.

"ooohhh..." jawab ku lirih.

_____________________

_____________________

Akhirnya aku dan si Gendon sudah turun ke ruang bawah, dan ku lihat mereka, para makhluk halus penghuni rumah ini sedang duduk di kursi tamu melihat kehadiran kita sambil tersenyum. Layaknya manusia biasa. Dengan wujud dan rupanya seperti manusia.

Dan ku lihat si polos sedang duduk santai sambil makan cemilan bersama seorang anak laki-laki berkepala botak.

Kemudian Yasmin menghampiri kami dan berkata,

"Maafin kami yang, Kang Gendon.  Kalau cara kami memperkenalkan diri kami malah membuat Kang Gendon jadi seperti tadi" 

"iya... hehehe... " jawab si Gendon sambil tangan kirinya menarik-narik baju kaos yang ku pakai saat itu.

"apaan sih..!!??" tanyaku, yang risih dengan tangan si Gendon.

"geulis pisan euy.." kata si Gendon sambil menatap wajah Yasmin.

"Mau lihat wajah aslinya, gak ??"  tiba-tiba si Polos nyeletuk.

"Emang wajah aslinya gimana ??" tanya si Gendon ke si Polos.

"coba lihat kaca di samping kamu tuh !!" jawab si Polos sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah sebuah kaca pelindung lukisan yang ada di samping si Gendon.

"jangan...." teriak pelan Yasmin.

Namun si Gendon sudah terlanjur melirik ke arah kaca tersebut, yang dimana terlihat bayangan Yasmin di kaca tersebut.

Akupun langsung kaget, tapi entah kenapa rasa kagetnya hanya sesaat kemudian terasa tenang kembali.

Tapi si Gendon "Anjiiinnnggg....!!!" 

Dia teriak kaget sambil bergerak cepat ke belakang ku.

Cengkraman tangannya terasa kuat sekali di lengan tangan ku.

Sebuah cengkraman penuh ketakutan.

"yaaaa...telat" lirih Yasmin.

"Ayo...sekarang coba dilihat lagi" kata Yasmin ke Si Gendon.

"gak apa-apa kok... percaya deh sama Yasmin.." kata Yasmin berusaha meyakinkan si Gendon.

"percaya tuh sama Allah !! Bukan sama kamu !!" bentak si Gendon.

"iya juga sih... hihihihi..." balas Yasmin sambil tertawa genit memperlihatkan gigi ginsulnya yang membuat dia makin terlihat cantik dan menarik.

"emooohhh...!!" jawab si Gendon, penuh kekesalan.

"iiihhhh...coba dulu deh.." balas Yasmin penuh harap.

"ya sudah...lihatnya dari sana aja.. nih..." Yasmin berjalan mendekati kaca tersebut agar bayangannya di kaca tersebut bisa terlihat dari posisi si Gendon saat ini berada.

Benar saja. Yang tadinya ku lihat bayangan Yasmin di kaca tersebut terlihat menyeramkan, kini terlihat cantik. Seperti wujudnya yang ku lihat dari tadi.

Akhirnya si Gendon melirik ke arah kaca, kemudian kurasakan cengkraman tangannya yang dari tadi mencengkram kuat tangan dan pundak ku terasa lebih rileks.

____________

Bagian 8

_____________