Senin, 23 Mei 2022

Villa Putih (Bag. 12)

Hari sudah pagi.
Matahari suda makin terang menyinari bumi ini.

Aku, si Polos dan si Gendon celingak-celinguk, melihat keluar dar balik jendela.

Ku lihat bola kaca pelindung lampu taman yang ku pasang kemarin, pecah ...
Dan tiangnya pun sudah tergeletak di atas rumput taman.

"kurang ajar...!!"
Bisik ku dalam hati.

Akhirnya kami keluar.
Untuk memastikan semua benar-benar aman.

"Anjiiiinnngggg....!!!"

Kudengar suara si Gendon mengumpat marah.

"Gobloookkk...!!
Siapa yang sudah rusak mobil kita, Kang !!??"

Betapa marahnya si Gendon, saat melihat pada mobil pak Haji terdapat beberapa bekas pukulan pada samping kiri dan kanannya.
Penyok... Seperti bekas pukulan tangan atau apalah...

"Syetan apa freeman...??
Barbar banget..."
Celetuk si Polos.

"Ngajak ribut gede ini mah !!"
Si Gendon benar-benar kesal.

Tiba-tiba si Gendon berlari ke taman.
Menghadap ke arah pohon beringin tua, di luar pagar rumah ini.
Yang konon katanya, di dekat pohon inilah dulunya mayat Ki Jahad dikuburkan, setelah mati dihakimi oleh warga yang marah.

"Dasar goblok !!
Berani-beraninya rusak mobil Pak Haji..!!
Nantangin Pak Haji loe..!!
Kamu belum tahu gimana galaknya Pak Haji kalau sedang marah..!!
Jangankan gunung..., semutpun dia telan kalau sedang marah...!!"

Teriak si Gendon sambil nunjuk-nunjuk ke arah pohon beringin.

Tiba-tiba....
"seeeeerrrrrrr........."

Daun-daun pohon beringin tersebut bergerak-gerak seperti tertiup angin.
Padahal bila benar-benar tertiup angin seharusnya daun-daun pohon yang lain ikut bergerak.

"Seeeeerrrrrr... "
Tiba-tiba bulu kuduk ku merinding.

Dan tiba-tiba si Gendon berlari menuju ke arah ku dan si Polos.

"Ngambeuk... Broooo...
Kikikikikikikikik....."
Kata si Gendon sambil cekikikan.

__________
__________

"Kang....mumpung masih pagi.
Sebaiknya cepat-cepat pergi dari sini.
Biar tidak terjadi apa-apa sama kalian.."

Terdengar suara Abah Ujang dari dalam rumah.

Ku lihat ke dalam sana.
Abah Ujang menggerak-gerakkan tangan kanannya, sebagai isyarat agar kami cepat-cepat pergi dari sini.

Ku lihat juga wajah Yasmin dan yang lainnya, terlihat sedih tapi tetap berusaha tersenyum.
Seolah mendukung Abah Ujang, agar kami segera pergi  dari rumah ini.

"Pusaka Pak Haji yang semalam ditanam oleh Abah Ujang untuk memagari rumah ini hanya bertahan semalam.
Berarti malam ini sudah tidak ada pagar perlindungan lagi.
Berarti..... Mereka.... Malam ini...."

Kata si Polos, lirih.....
Sambil memandang ke arah ku.

"Kita bawa mereka, gak bisa.
Kita pergi tanpa mereka, berarti kita tegaan...
Kita tetap disini, resikonya mati..."

Kata si Gendon sambil memegang pundak kiri ku.

__________
__________

Aku dan si Gendon menghampiri pohon beringin angker tersebut.
Sambil menenteng beberapa botol bensin di tangan kami.

Kemudian kami siramkan bensin-bensin dalam botol tersebut ke batang besar pohon beringin itu.

Setelah itu si Gendon langsung ngacir menuju si Polos yang menunggu dekat gerbang mengawasi kami.

Niat ku ingin membakar pohon beringin tersebut.
Agar Ki Jahad dan para pengikutnya, yang menurut kami bersembunyi di dalam pohon tersebut musnah terbakar.

Tapi sesuatu di luar nalar terjadi.

Pohon beringin tersebut bukannya terbakar.
Malahan bensin-bensin tersebut tidak mau menyala saat aku bakar pakai korek.

Dan tiba-tiba, 

"BUUUUUKKKK...!!!"

Tubuh ku terlempar beberapa meter, menjauh dari pohon tersebut.
Seolah dipukul oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Sesak.
Pusing.
Dan,

"Huweeexxzzss..!!"

Akupun muntah darah.

Tiba-tiba si Polos dan si Gendon sudah memegangiku.
Mereka membopong tubuh ku, masuk kembali ke dalam rumah.

"KO lagi..."
Kata si Gendon.

__________
__________



Tidak ada komentar:

Posting Komentar