Minggu, 22 Mei 2022

Villa Putih (Bag. 10)

Antara sadar dan tidak, aku mendengar suara tangisan Yasmin dan beberapa suara yang lainnya memanggil-manggil nama ku.

Kurasakan juga tubuh ku yang digoyang-goyangkan oleh seseorang.

Aku bisa mendengar semua suara-suara itu.
Aku bisa merasakan goyangan-goyangan pada tubuh ku.
Tapi aku tidak bisa membuka mata ku.
Dan badan ku terasa sangat lemah untuk digerakkan.
Bahkan untuk menggerakkan jari jemari tangan ku saja rasanya sangat berat.

Aku berusaha untuk bersuara, tapi seperti ada sesuatu yang menahan di tenggorokkan ku, agar aku tidak bersuara.

Tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang menyengat di hidung ku.
Dan terasa ada tangan yang mengelus-elus pundak ku.
Terasa sangat hangat dan sedikit demi sedikit akhirnya akupun tersadar, dan bisa membuka kedua mata ini.

____________
____________

Dengan badan yang terasa remuk, aku terduduk lemah sambil bersandar pada Yasmin yang terus menerus berkata

"maafkan Yasmin, Kang...
Gara-gara Yasmin.. Akang jadi seperti ini..."

"Maafkan Abah juga, Kang...
Andai saja Abah tidak terlambat membantu, mungkin Akang tidak akan mengalami kejadian ini."
Kata Abah Ujang.

"Sudah...jangan pada sedih seperti ini...
Saya baik-baik saja kok..."
Kata ku, untuk menenangkan mereka.

"Nomor Pak Haji kok gak aktif-aktif sih !!???"
Kata si Gendon.
Sepertinya dia sedang berusaha menghubungi Pak Haji lewat hp miliknya.

Sambil celingak-celinguk aku menanyakkan si Polos sama mereka.
Aku mendadak khawatir, soalnya saat kejadian tadi aku sempat melihat si polos ikut terhempas saat ada angin kencang yang masuk lewat jendela tadi.

"mana si Polos ??"
Tanya ku...

"Dia sedang mengaji di ruang tamu, ditemani Mang Asep..."
Jawab Abah Ujang.

"oya, siapa makhluk yang tadi ??"
Tanya ku penasaran.
Menanyakkan makhluk hitam tinggi besar yang tadi menarik-narik Yasmin, yang kemudian berubah jadi bola api setelah aku serang.

"Dia anak buah jin khorinnya Ki Jahad.
Dukun jahat yang pernah saya ceritakan kemarin.."
Jawab Abah Ujang.

"Sebaiknya Akang Lani jangan mikirin yang berat-berat dulu.
Lebih baik istirahat saja.
Biar cepat pulih.
Abah sudah pasang pusaka pemberian Pak Haji untuk memagari rumah ini.
Agar Ki Jahad dan anak buahnya tidak bisa masuk ke rumah ini.."
Kata Abah Ujang.

"walaupun kekuatannya hanya sementara, setidaknya kita semua aman sampai besok pagi..."
Mr. Alex menambahkan...

"Terus besok gimana !!??"
Si Gendon mendadak ngegas...

"Besok pagi, Kang Lani, Kang Gendon dan Kang Polos bisa pergi dari sini.
Biar kalian selamat..."
Kata Yasmin...

"Terus bagaimana dengan kalian..!!??"
Terdengar suara si Polos yang sedang berdiri di pintu kamar.

"Oya.. Kalian kan bisa ikut sama kami ke Banten.
Kita laporin semuanya sama Pak Haji.
Biar nanti Pak Haji yang hajar Ki Jahad dan anak buahnya..!!"
Kata si Gendon penuh semangat.

Terlihat raut wajah Yasmin, Abah Ujang dan yang lainnya.
Bukannya terlihat senang dengan ide si Gendon.
Tapi mereka terlihat sedih dan saling memandang satu sama lainnya...

Ku lihat wajah Mbok Ijah dan Mbok Inem seperti berusaha tersenyum lemah saat berpandangan dengan Yasmin.
Dan Yasmin pun seolah berusaha membalas senyuman mereka, dengan senyuman yang terlihat lemah juga.

"Kalau besok kita pergi, mereka gak bisa ikut kita, Kang..."
Si Polos kembali bersuara.

"Maksudnya...??"
Tanyaku penasaran.

"Mereka semua Jin Khorin yang sudah dipagari.
Mereka semua tidak bisa keluar dari wilayah rumah ini.
Kalau mereka melanggar, berusaha keluar dari wilayah rumah ini, mereka akan hancur lebur.."
Kata si Polos.

"seperti Asih..."
Kata ku dalam hati.

________
________

Asih... Jin Khorin cantik tapi jahil.
Yang hampir saja dimusnahkan oleh Pak Haji karena kejahilannya itu.

Tapi saat Pak Haji akan memusnahkannya, aku menghalanginya.
Aku mendebat Pak Haji dan beberapa santri dekatnya, yang ingin memusnahkan Asih.

Walaupun saat itu aku adalah salah satu orang yang sering jadi korban kejahilan Asih.
Bahkan hampir mati masuk jurang karena ketakutan dikejar oleh Asih saat melintasi hutan menuju pesantren Pak Haji yang letaknya ada di tengah hutan.

Pas aku terperosok jatuh ke sebuah jurang, justru Asih sendiri yang menyelamatkan aku.

Dia terbang menyusul ku.
Membawa aku kembali ke atas.
Kemudian dia terbang menjauh dan menyuruh ku pergi.

Saat aku pergi, aku sempat melihat tatapannya yang dipenuhi penyesalan.

Sejak saat itu, aku merasa, Asih yang terkenal suka jahil ini sebenarnya tidak pernah bermaksud mencelakai manusia.
Apalagi membunuh mereka.

Memang...
Pernah ada orang yang dicelakainya sampai mati.
Tapi menurut informasi yang ku dapat dari seseorang, orang tersebut mati karena niat buruknya sendiri.

Dia mencoba menaklukkan Asih agar bisa diperisteri, untuk dijadikan pesugihan, agar dia bisa sakti dan kaya raya.

Karena marah, akhirnya Asih membunuhnya.
Karena pilihan Asih saat itu hanya dua, tunduk atau melawan.
Tunduk, berarti dia harus mau diperbudak.
Melawan, berarti dia harus bertempur sampai salah satu dari mereka mati.
Dan akhirnya Asih menang.

Alasan Pak Haji ingin memusnahkannya, karena Pak Haji mendapat informasi dari salah satu muridnya, bahwasanya Asih sering meminta tumbal nyawa pada waktu-waktu tertentu.

Akhirnya Pak Haji marah dan berniat memusnahkannya.

Aku dan si Polos yang saat itu ikut rombongan Pak Haji, berpikir Pak Haji mungkin hanya akan menundukkannya.
Kemudian memindahkannya ke tempat lain.
Bukan memusnahkannya.

Tapi karena Asih yang wataknya keras kepala.
Tidak mau tunduk siapapun.
Memilih bertempur sampai mati.
Dan Pak Haji pun sempat kewalahan menghadapinya.
Disertai hasutan salah satu muridnya yang terus mengompori Pak Haji, agar Beliau memusnahkan Asih.
Pak Haji pun hampir saja memusnahkannya.

Namun aku menghalanginya.
Aku mendebat Beliau secara logika.
Dan si Polos, yang merupakan salah seorang keponakkan Beliau ikut membantu ku.

Akhirnya Pak Haji sadar bahwasanya dia tengah diadu domba oleh salah seorang muridnya.

Hingga akhirnya terbongkar niat busuk dari salah seorang murid Pak Haji ini.

Ternyata dia pernah diam-diam mencoba menaklukkan Asih, karena tergoda oleh kecantikkan Asih, dan berkali-kali pernah mencoba menundukkan Asih agar bisa diperisterinya.

Namun selalu gagal.
Dan saat Asih mencoba memberinya pelajaran, dia selalu bersembunyi di pesantren milik Pak Haji.
Jadi, tak bisa mengejarnya ke sana.

Akhirnya Asih pun tak jadi dimusnahkan oleh Pak Haji.
Tapi demi kebaikkan bersama, Asih dipindahkan ke suatu tempat yang tersembunyi.
Pak Haji pun memagari tempat itu, agar Asih tidak bebas keluyuran dan mengganggu manusia.

Aku dan si Polos pernah mendatangi tempat tersebut, atas ijin Pak Haji.
Aku bertemu Asih.
Dia tersenyum senang menyambut kedatangan ku.
Dia memang sengaja meminta Pak Haji untuk bertemu dengan ku dan si Polos.
Untuk berterima kasih.
Dan sekaligus meminta maaf karena pernah menjahili aku, sampai aku hampir mati masuk ke jurang.

Katanya dia sangat menyesal.
Dan sejak itu, kalau dia melihat ku melewati hutan, menuju pesantren Pak Haji, dia tidak pernah lagi berani mendekati ku.
Hanya memperhatikan aku.
Dan menjaga ku agar tidak diganggu oleh jin yang lainnya saat di perjalanan.

Makanya, kalau malam-malam aku datang ke pesantren, salah satu murid kesayangan Pak Haji sering meledek aku.
Katanya "kesayangan si merah datang.."

_______
_______





Tidak ada komentar:

Posting Komentar