Sabtu, 21 Mei 2022

Vila Putih (Bag. 8)

Tak berselang lama, akhirnya kami semua duduk bersama.
Sambil menikmati segelas kopi hangat dan cemilan yang disuguhkan oleh mereka.

Tak ada lagi rasa takut dalam diri saya dan si Gendon terhadap mereka, para makhluk halus penghuni vila putih ini.

Kami ngobrol ngaler ngidul.
Bercanda...
Hingga akhirnya kami mengenal satu sama lain.

Dan akupun jadi tahu, kenapa orang-orang sebelum kami, yang pernah datang untuk memperbaiki rumah ini selalu kabur ketakutan.

Karena mereka memiliki niat buruk setelah melihat isi dari rumah ini.
Di dalam rumah ini ternyata masih banyak perabotan zaman dulu, yang terbilang antik, dan bisa dijual mahal kepada para kolektor barang antik.

Seperti bundaran lampu hias yang menerangi rumah ini.
Ternyata bukan sembarang kuningan.
Tapi mengandung emas.
Juga beberapa pas bunga yang ada di rumah ini, ternyata pas bunga zaman dulu, dan sangat antik.

Pak Haji, pemilik rumah ini, yang menyuruh kami datang kesini, ternyata dulunya adalah keturunan dari penjaga rumah ini.
Dan karena sudah turun temurun menjaga rumah ini, akhirnya masyarakat sekitar menganggapnya sebagai pemilik rumah ini.

Dan beberapa orang yang katanya pernah menyewa rumah ini, ternyata bukan penyewa.
Tapi orang-orang kepercayaan Pak Haji yang dipercaya oleh Beliau untuk menempati dan menjaga barang-barang antik di rumah ini.

Namun mereka akhirnya tergoda untuk mencuri satu persatu barang-barang antik di rumah ini.

Hingga membuat Yasmin dan para makhluk halus penghuni rumah ini marah.
Dan akhirnya mengusir mereka.

Terutama saat salah satu dari mereka pernah mencoba mencuri sebuah cermin kecil kesayangan Yasmin, saat dulu Yasmin masih hidup.
Dan Yasmin hampir saja membunuhnya, tapi dicegah oleh Abah Ujang, kakek-kakek salah satu makhluk halus penghuni dari rumah ini.

Dan paling jahil dari mereka adalah Mr. Alex.
Dulunya dia adalah seorang pelukis dari Belanda, yang diundang oleh orang tua Yasmin, untuk melukis keluarga dan pemandangan di sekitar tempat ini.

Mr. Alex ikut tertembak saat mencoba menolong Ucup, anak warga sekitar yang tertembak saat mengantarkan telur ayam pesanan keluarga Yasmin.

Kedua orang tua Yasmin selamat dari penyerangan saat itu karena ditolong oleh beberapa pemuda sekitar, yang merupakan murid dari ibunya Yasmin.

Pada saat itu, Ibunya Yasmin sering mengajar anak-anak muda warga sekitar.
Agar mereka setidaknya bisa membaca, menulis dan berhitung.

Sedangkan Bapaknya Yasmin adalah seorang dokter militer pada masa itu.
Beliau sering mengobati warga sekitar yang sakit.
Dan karena ini, ada seorang dukun pengobatan yang merasa tersaingi dan menghasutnya.
Yang kemudian melaporkannya kepada para gerilyawan yang kala sedang melintas tak jauh dari perkampungan ini.
Dukun tersebut mengatakan kepada para gerilyawan bahwa Bapaknya Yasmin sering mendatangi rumah-rumah warga untuk menghasut warga agar membenci para gerilyawan.

Hingga akhirnya, para gerilyawan menyerang rumah kediaman Yasmin.

Kedua orang tua Yasmin selamat karena ditolong oleh para pemuda dan warga yang sedang belajar di rumah Yasmin pada saat kejadian.
Kemudian dibawa oleh warga untuk menghadap komandan para gerilyawan untuk mendapatkan pengampunan, dengan alasan bahwa kedua orang tua Yasmin sering membantu warga dan tidak pernah berbuat jahat terhadap warga pribumi.

Akhirnya kedua orang tua Yasmin hanya ditahan.
Dan pada akhirnya dibebaskan.

Sedangkan dukun penghasut dihukum oleh warga dengan cara yang sangat sadis.
Dampak dari kemarahan warga pada saat itu.

Konon, mayat dari dukun ini dikuburkan tak jauh dari rumah ini.
Dan jin khorinnya bersama jin-jin peliharaan sang dukun sering datang untuk membalas dendam.

Kata Abah Ujang, dulu ada penghuni rumah ini mati mengenaskan.
Dan warga sekitar menganggap mereka mati dibunuh oleh makhluk halus penghuni rumah ini (Yasmin dan yang lainnya).
Padahal jin khorin dukun dan jin-jin jahat pengikutnya yang melakukan semuanya itu.

Yasmin pun hampir dibawa oleh mereka untuk diperisteri jin khorin sang dukun.
Tapi berhasil diselamatkan setelah Abah Ujang meminta bantuan Pak Haji, pemilik rumah ini.

Yasmin dan yang lainnya diijinkan oleh Pak Haji untuk tetap menghuni rumah ini.
Tapi karena Pak Haji menikah dengan orang Banten, dan isterinya tidak mau tinggal disini, karena jauh dari perumahan warga, akhirnya Pak Haji ikut pindah ke Banten.

Namun sebelum pergi, Pak Haji sempat memagari rumah ini agar tidak bisa dimasuki oleh Jin Khorin sang dukun dan jin-jin jahat pengikutnya, agar Yasmin dan yang lainnya tetap aman disini.

Tapi, kata Abah Ujang, kekuatan dari pagar itu sudah sangat rapuh.
Dan pilar utama dari pagar itu sudah hilang, karena ada penjaga taman, yang selama ini sering datang kesini untuk membersihkan taman tanpa sengaja mengencinginya.

Sekarang, Jin khorin sang dukun yang bernama Ki Jahad dan pengikutnya bisa masuk dengan mudah.

Apalagi saat mereka tahu ada manusia yang datang dan menginap disini.
Mereka pasti akan datang dan membuat celaka.
Makanya Yasmin, Abah Ujang dan yang lainnya sepakat untuk berkomunikasi dengan kami.
Untuk mengingatkan kami.

Dan ini pertama kalinya mereka melakukan ini, semenjak berpisah dengan Pak Haji.

Informasi yang didapat dari mereka, cukup membuat ku merinding, tapi penasaran.
Terbersit niat ku untuk menghubungi Pak Haji besok hari.
Untuk mengkomfirmasikan informasi tersebut.
Dan meminta petunjuk dari Beliau, bila terjadi sesuatu selama kami disini.

Soalnya, pekerjaan yang harus kami kerjakan disini tak akan selesai dalam sehari.
Mungkin butuh tiga sampai lima hari.
Itupun jika tidak ada kendala, yang akan membutuhkan waktu tambahan bagi kami untuk bekerja.

Setelah terus ngobrol, akhirnya Si Gendon dan aku mulai merasa ngantuk.
Sedangkan Si Polos sudah tertidur duluan di atas sofa dan dipasangi selimut oleh Mbok Inem.

Yasmin menyadari ini, kemudian menyarankan aku dan si Gendon untuk beristirahat.

"Sepertinya Akang sudah pada ngantuk ya ??
Ya sudah... Pada tidur gih, sana...
Biarin Kang Polos tidur disini aja, dijagain kok sama kami.
Kasihan kalau dibangunin.
Lagi nikmat-nikmatnya tidur dia..."

Aku dan si Gendon akhirnya pamitan.
Naik ke kamar atas untuk tidur.

______________
______________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar